Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2012

Biduk yang Rapuh

“Aku sudah menunggu lama dalam penantianku ini.  Semoga Tuhan yang Kuasa  masih berkenan memberikan secercah Kemurahan, agar  aku dan Mas Burhan  bisa dipertemukan lagi” bisikan hatinya tiada henti terselip di jauh relung hatinya,  bisikan yang kadang terlontar di mulutnya,  menjadi doa tiada henti, kala Ningrum bersimpuh menengadahkan tanganya demi sebuah harapan yang menggayutinya selama bertahun tahun. Namun sang waktu adalah sesuatu yang hanya mampu merangkak tanpa satupun kata hati, terus saja melaju berpadu dengan putaran bumi menebas relung kehidupan manusia.

Demikian juga kehidupan Ningrum, seorang wanita desa, yang hanya mengerti bahasa musim demi semi padi dan palawija yang direntangkan di atas sawah dan ladangnya yang tiada seberapa luasnya. Sedangkan Burhan suaminya hanya supir angkutan desa pengangkut sayur hasil panen sayuran milik tetangga sedusunya. Itupun hanya bisa dilakukan suaminya saat musim hujan tiba. Apabila kemarau menikam dusunya,  semua sawah dan ladang merontang,  maka mobil pick- up milik juraganya itu hanya terbujur di rumah juragan Winata, yang telah lama mempercayakan Burhan sebagai supir pick- up pocokanya.

Apa yang bisa diharapkan dari sepasang suami muda petani yang hidup di desa yang hanya mengandalkan perguliran musim, sedangkan kebutuhan hidup mereka dan  2 anaknya tidak mengenal musim. Kebutuan untuk sekolah, makan dan lainya tidak mengenal kerontangnya sawah dan ladang. Menyandarkan susu perahanpun hasilnya tidak seberapa, bahkan terkadang harganya anjlok, sedangkan beberapa kambing milik suaminya sudah lama sekali dijual untuk menyambung hidup mereka.  Tidak lama kemudian beberapa ekor sapi perahanyapun ikut dilipat demi sesuap nasi.

Meski sekali sekali suaminya mencoba menanam sayuran di ladang peninggalan orang tuanya, namun  tetap saja hasilnya tidak seberapa, lantaran pupuk dan obat anti hama harganya tidak menentu, bahkan sering kali  melambung naik. Tetapi harga sayuran  tidak  pernah melambung naik.  Itupun dianggap Burhan sebagai berkah daripada sayuranya tidak terjual dan membusuk. Burhan hanya bisa menggerutu tentang nasibnya yang hanya dipermainkan musim, dipermainkan oleh tanah yang menghitam karena ulah petani sendiri, bahkan tidak tanggung tangung rakusnya ulat, belalang, jamur atau wereng yang menerjang tanaman sayurannya ikut serta mempermainkan bilah hidupnya.

            Burhan kini terselip di tengah kebimbangan yang menghimpitnya. Burhan merasakan kebahagian yang menjadi hak hidup dirinya, apabila berada di tengah Ningrum dan kedua anaknya yang lagi imut imutnya. Tetapi tanah tempat lahirnya kini bagi dirinya sudah tidak mampu lagi menopang hidupnya. Mobil milik  Juragan Winatapun sudah dipocokan kepada keponakanya sendiri yang juga sering menganggur seperti dirinya. Kini hanya tinggal ladang miliknya seluas seperempat hektar yang terbujur ditumbuhi ilalang dan belukar. Ladang yang terbujur dilereng bukit tetapi dibiarkarkan terbengkelai itu,  sudah lama diimpikan Burhan untuk digadaikan ke Juragan Winata dan uang hasil gadai diharapkan Burhan  mampu digunakan untuk merantau keJakarta, guna menundukan roda nasib yang masih menggilas dirinya dan keluarganya. Meski dia harus meninggalkan Ningrum dan kedua anaknya.

            Ningrum sama sekali tidak setuju dengan angan suaminya, karena mereka sejak lahir sudah membentangkan hidup bersama di desa lereng Gunung Merapi yang masih mampu menyodorkan sebuah harapan bagi lengan lengan kecil mereka berdua yang tidak seberapakokohnya. Tanah yang mereka harapkan dapat mampu menumbuhkan tanaman pnghidupan sebenarnya masih cukup demi kehidupan mereka yang sederhana dan bersahaja, bukan untuk hidup yang diangankan Burhan,yang mulai tidak sabar dalam mengais nasib yang sudah tergambar dalam buku takdir. Apalagi dengan menggadaikan kebun peninggalan orang tua Burhan yang kini telah menghadap yang Kuasa.

***

            “ Aku tidak setuju mas !,bila kamu menggadaikan tanah kita “ berkali kali sepotong kalimat itu memenuhi tiap ruangan bilik setengah papan beratap seng rumah mereka.Namun Burhan tidak pernah memasang kedua telinganya demi sebuah permintaan isrinya yang keluar jauh dari lubuk hatinya.

            “Mengapa kita tidak mendaftar transmigrasi saja mas !, kan tidak perlu menggadaikan tanah kebun kita !” Sebuah permintaan Ningrum yang kerap pula diajukan pada suaminya.

            “Aku tidak mau lagi berurusan dengan tanah dan cangkul !, aku hanya menemukan kegagalan dan kegagalan dengan tanaman dan kebun !, aku sedikit banyaknya mengerti mesin mobil yang dapat untuk bekal membuka bengkel  di Jakarta. Aku akan mencoba menjadi sopir angkot atau sopir apa saja, sambil mencari tempat untuk membuka bengkel dengan modal uang gadai tanah kita “. Pekik Burhan semakin membangunkan rasa was was di hati istrinya, yang lebih mampu menggunakan nalarnya ketimbang Burhan, yang memiliki tabiat mudah larut dengan anganya sendiri. Meski kegagalan demi kegagalan sering ia dapatkan, namun tak sedikitpun kegetiran hatinya mampu mendewasakanya.

            Sedangkan Ningrum telah hafal betul dengan tabiat suaminya yang kerap melangkah gegabah tanpa pertimbangan yang masak.Ningrumpun tahu persisi bahwa suaminya hanya terbuai cerita manis teman teman sekampungnya yang dinilainya sudah berhasil. Padaha menurut Ningrum, kehidupan mereka berdua di desa tidak kalah menjanjikan ketimbang mereka yang merantau ke Jakarta, asalkan mereka berdua mampu bersabar, hemat dan tabah menghadapi semua tabiat musim. Rupanya hal itu sama sekali tidak digubris oleh suaminya. Padahal untuk mengusung kehidupan di desa mereka yang tidak banyak menyelipkan persaingan yang tajam dan ganas, Burhan sudah tidak mampu sabar dan tabah, apalagi untuk mengais kehidupan di Jakarta yang penuh tantangan.liar, ganas dan  tidak segan segan manusia memakan manusia lainnya.

            Apabila Ningrum yang tak surut mencoba memberi gambaran tentang rencana Burhan untuk meninggalkan kehidupan di desa mereka, sepasang sorot mata yang ganas nanar dari suaminya selalu Ningrum jumpai. Ningrum hanya menjumpai angan suaminya layaknya seorang bocah yang meratapi sebuah mainan yang ingin dimilikinya. Padahal meski Ningrum berusia jauh di bawah Burhan,  tetapi sebenarnya permintaan Ningrum jauh lebih realistis ketimbang Burhan.

Ningrum kini hanya mampu diam membisu dan membiarkan suaminya menggadaikan kebunnya dengan harga yang murah. Meski demikian dalam lubuk hati wanita desa yang hanya berijasah SMP itu, masih terselip suatu harapan  semoga saja tanah simpanan hidup mereka berdua tidak ikut menjadi korban angan gelap mata suaminya dengan menjual kepada sang juragan dan tuan tanah di desanya.  Kekhawatiran Ningrum pada masalah ini bukan tanpa alasan, karena tanah mereka telah dijadikan harapan terakhirnya bagi Burhan untuk menyambung hidup mereka bila di Jakarta kelak dia menemukan kegagalan.

Beruntung Burhan memiliki istri Ningrum yang sudah sejak lahir didera penderitaan hidup, sehingga apapun cobaan yang dijumpai mereka berdua sebagai keluarga yang belum kuat berpilar tak membuat ciut nyalinya Ningrum. Kasih dan cintanya kepada suami dan kedua anaknya  tidak sedikitpun surut. Meski angan dan cita citanya untuk memiliki sebuah keluarga yang cukup terhempas kandas diterkam nasib yang belum menentu, bagaikan biduk kayu yang rapuh harus berjuang mengayuh hidup di tengah samudra dengan layar yang koyak. Biduk itupun kini bertambah tak berarah setelah Burhan tetap mematangkan niatnya untuk menundukan Jakarta, yang menurut Ningrum sama seperti menggapai kehidupan yang pengap bagaikan keranjang sampah yang busuk dan menjijikan.

***

            Apa yang dibayangkan Ningrum beberapa tahun silam kini telah menjadi realita.Jangankan kepindahan dia dan dua anaknya ke Jakarta untukmeyelipkan sebuah kebahagiaan yang disodorkan Burhan,selembar suratpun belum pernah dia  dapatkan setelah 3 tahun terakhir. Pada awalnya Burhan memang kerap pulang dengan wajah yang kumal dan kusut, suatu isarat bahwa kehidupanya di Jakarta belumlah sesuai dengan apa yang diimpikan Burhan. Berkali kali pula Ningrum memintanya dia kembali saja ke desa mereka, tanpa terbuai impian tentang Jakarta, meski harus menjual tanah mereka ke Juragan Winata. Namun Burhan tetap bersikeras untuk kembali menggapai anganya di Jakarta.

            Ningrum tahu persis bahwa suaminya di Jakarta 3 tahun belakangan ini sudah tak memiliki apa apa lagi. Hanya linangan air matanya yang menetes setiap malam setelah kedua anaknya tertidur yang menjadi saksi doanya semoga suaminya tidak tidur di kolong jembatan.Ningrum masih yakin betul, bahwa suaminya masih menyintai dia dan kedua anaknya, hanya saja suaminya mungkin malu untuk menunjukan pada dirinya akan kehidupanya yang compang camping di Jakarta. Ningrumpun masih memiliki angan untuk segera menjual tanah suaminya bila dia kembali ke desanya untuk modal berjualan apa saja demi membahagiakan suami dan anak anaknya, dia kini telah siap untuk membanting tulang seperti yang pernah dilakukan saat dia masih hidup bersama dengan emak dan bapaknya, yang hidup hanya menyandarkan kedua bahunya. Namun hal rencana itu hanya menemui ruang hampa, lantaran sudah beberapa tahun ini kabar tentang suaminya belum juga dia dapatnya.

            Perasaan rindu mendalam dan rasa khawatir kini berkecamuk dalam dadanya, apalagi bila mendengar rintihan kedua bocahnya yang menanyakan tentang bapaknya, yang pernah menjanjikan membelikan mereka mainan dan baju baru. Rintihan mereka dan tangis yang berkecamuk dalam rongga dada Ningrum hanya mampu tanaman kunir, sayuran dan kolonjono di halaman rumah mereka yang diam membisu.

            Bulan Desember kini hadir di tengah berada di sekeliling keluarga yang merana itu. Semilir angin penghujan mulai menggigit tulang tulang mereka. Kabut musim hujan selalu menyelimuti bilik sederhana kamar tidurnya. Dinginya malam itu semakin menyayat hati Ningrum yang menerbangkan anganya pada Burhan yang mugkin saja sedang tidur di kolong jembatan atau di tepi jalanan atau mungkin saja tidur di pelukan wanita lain.”Oh tidak, tidak mungkin Mas Burhan seperti itu, tidak mungkin Mas Burhan menjual cinta murahnya” bisik hatinya sering memenuhi jantung hatinya bila malam tiba.

            Ningrum segera menuju ruang depan yang beralas semen yang sudah banyak mengelupas, setelah mendengar pintu ruang depan diketuk berkali kali oleh seseorang.

            “Oh Pak Surip, ada apa malam malam membangunkanku ?”.

            “Oh maaf  Ningrum !,aku terpaksa membangunkan kamu, karena aku harus mengantarkan Burhan yang tadi entah mengapa roboh di serambi balai desa “

            “Mas Burhan !” Ningrum berteriak setelah melihat suaminya yang kurus kering dengan wajah pucat dan selembar pakaian yang compang camping.

            Dipapahnya tubuh kurus kering yang lunglai untuk direbahkan di kursi kayu lusuh di ruang depan. Pipi Ningrum kini dibasahi air mata yang tidak mampu dibendungnya,meski kegetiran hidup wanita desa ini telah menggayuti seluruh hidupnya.

            “Mengapa,Mas Burhan !”

            “Maaf ya Ning !,aku beberapa tahun tidak mengabarimu,karena aku tidur di gerbong kereta ,aku tak memiliki apa apa lagi, aku malu untuk pulang dalam keadaan begini, hingga aku sakit dan terpaksa ikut truk dari Jakarta ke Boyolali. Ningrum , maafkan aku ya !”. Dipeluknya tubuh suaminya yang menggigil kedinginan, tanpa sepotong katapun untuk menjawab permintaan maaf suaminya. Karena jauh sebelum kepulangan suaminya Ningrum telah memaafkan semuanya. Dalam hati Ningrum tetap terselip penghidupan baru yang siap dia usung demi membahagiakan suami dan kedua anaknya. Layar yang terpasang di biduk yang kecil kini mulai kokoh menjulang ke atas siap mencumbu angin laut kemanapun arahnya***

Kamis, 22 November 2012

Sihir Tomcat



SENJA sudah mulai menggelapi rumah sederhana, yang berlantai semen dan berdinding setengah bata. Atap rumah sederhana yang  terbuat dari genteng  merah sederhana itu, masih menyimpan hangat terkaman sinar matahari yang seharian penuh tadi mengakrabinya. Angin pancaroba  yang seharian  menerbangkan debu debu dari arah bentangan sawah  di sebelah  mulai lelah, berganti dengan langkahnya yang semilir. Sehingga semua daun pisang di halaman belakang, hanya mampu tertunduk lesu.

Seperti biasa tiap senja menyelinap pekarangan rumahnya,  Sukoco  mulai memutar-mutar lampu neon lusuh 10 Watt di halaman depan agar mampu menyala. Meski sinarnya sudah mulai surut, namun lampu neonya mampu menerangi jalan tanah yang ada di depan rumahnya. Sehingga lubang lubang jalan yang dilindas roda pedati kini dapat terlihat jelas. Terdengar batuk batuk kecil Sukoco menyelinap dinantara kelengangan desanya yang sedang dirundung sebuah kegetiran. Batuknya semakin melengking saat ,  semilir angin senja mulai membalut tubuh Sukoco yang kurus kering itu. Namun lelaki yang menghabiskan seluruh hidupnya di sawah ladang itu, lebih memilih menghangatkan tubuhnya dengan menutup rapat rapat  dengan sarungnya yang  kumal.  

Sukoco segera beranjak dari duduknya, setelah beberapa serangga tomcat beterbangan dan hinggap di dinding  beranda rumahnya, segera dia berkelit kesana kemari, mirip Pendekar Rajawali dalam serial silat mandarin “Return of The Condor Hero” yang mahir memainkan pedangnya. Sarungnya yang tadinya membungkus tubuhnya kini berganti digunakan untuk menyambar setiap tomcat yang terbang di seputar tubuhnya. Rupanya tomcat itu kembali menyatroni rumah papanya dan kini nampaknya semakin bertambah banyak jumlahnya. Rasa kesal Sukoco kembali mengisi seluruh hatinya seperti malam malam sebelumnya. Padahal kemarin malam sudah cukup banyak serangga itu bergelimpangan di lantai semen setiap penjuru rumahnya,  setelah dia semprot dengan obat serangga  sisa dari musim tanam kemarin.

Namun kawanan  tomcat itu tidak menggubrisnya, seakan akan mereka tahu bahwa  Sukoco dan teman-temanya yang mengusik ketentraman hidup mereka, petani desa itulah yang membunuh wereng yang menjadi santapan mereka setiap hari, ditambah dengan bau obat serangga  yang merambah setiap jengkal sawah mereka, yang telah membuat mereka mual perutnya dan memeningkan kepalanya. Bahkan tidak sedikit  teman mereka yang tersungkur menghembuskan nafas.

“Tomcat sialan, ayo maju rasakan sarungku !!!’. Setelah beberapa puluh tomcat bergelimpangan, Sukoco segera kembali siaga dengan kuda-kudanya mirip pendekar
sakti yang menantang musuhnya. Mendengar teriakan Sukoco yang memecahkan keheningan senja di tengah perkampungan petani yang dibelit kesusahan hidup. Beberapa
tetangganya segera merangsek mendekati Sukoco, yang kini mengerahkan semua jurus silatnya dari mulai aliran mandarin hingga jurus Betawi untuk mengalahkan tomcat.

“Pak !, jangan seperti orang gila !, malu dilihat tetangga !!” teriak istrinya yang mengambil langkah seribu keluar rumah setelah mendengar kegaduhan yang dibuat suaminya.

“Biar saja !, biar semua tomcat ini mampus !, aku sudah semprot dengan oabt serangga, tetapi mereka tidak mati !” Sukoco sudah menepikan akal sehatnya, memang dia telah kesal dengan tomcat-tomcat durjana yang nekad menyebar di rumahnya dan sebagian menyerang gabah yang baru saja dipanenya.

“Tapi jangan seperti orang gila !”. Lengkingan Ponirah membentur dinding bambu rumah tetangganya yang berjajar di jalan tanah berlapis batu kali yang berhamburan di atasnya.

“Yang gila aku apa tomcat, Pon ?” teriakan Sukoco dibarengi kedua matanya yang melotot pada Ponirah istrinya.

“Kalau yang gila tomcatnya!, apa kita akan menirunya ?” kembali Ponirah mengajukan protes keras.

“Iya!, kalau perlu !, lihat tuh Pon!. Semua tetangga kita sekarang jadi edan memburu tomcat sialan ini. Jelas ini kemarahan sang penunggu sawah-sawah kita. Sehingga tomcat ini menjadi berani dengan kita “ Kedua kaki Sukoco kini berhenti berjingkrakan yang tadinya mirip Jacko yang asyik menyanyikan lagu “Black and White”. Kini sarungnya dikalungkan ke lehernya, mulutnya mulai berkomat kamit menghujamkan mantra sakti pada kawanan tomcat yang kini masih beterbangan kesana kemari di dalam dan pekarangan rumah papan Sukoco.

“Pak, kamu tambah memalukan. Ingat Pak !, tetangga kita mulai berdatangan menontonmu, Pak ingat,Pak !!!!!”.

“Edan kamu !, tomcat itu tidak sembarangan hewan, tidak seperti biasanya mereka berani dengan kita. Mesti ini karena sihir penunggu sawah kita. Sekarang diam kamu !”

Kerumunan tetangga Sukoco bertambah rapat, beberapa diantaranya juga ikut berkomat
kamit mulutnya, wajah wajah mereka tengadah ke langit hitam. Mereka kini semua berniat mengajukan protes pada siluman siluman di langit sana yang menggembalakan tomcat yang liar dan ganas. Terlebih lebih Sukoco yang merasa menjadi pusat perhatian tetangganya menjadi semakin liar dan tak tahu malu. Seluruh tubuhnya kini mengginggil, dan dari mulutnya terdengar suara melengking.

“Hei, sang penunggu Desa  Gondang Manis!, Hentikan kemarahanmu !, bawa pulang kembali tomcat kamu semua !“ seru Sukoco.

“Sukoco !!!!”, panggil Langgeng Budarjo yang memecahkan konsentrasi Sukoco yang berdiri di tengah kerumunan lengkap dengan pasang aksi yang berhasil menghipnotis tetangganya yang meyakini kekonyolan Sukoco. Laki laki kurus kering itu segera menghentikan mulutnya yang komat-kamit, dan segera menyapu sorot mata tajam pada lelaki tua beruban yang kini berdiri di depanya.

“Ada apa, paman !”

“Kamu sudah edan !” bentak Langgeng Budarjo yang seusia ayah Sukoco.

“Jangan usil dengan niat saya, paman !, ini demi ketentraman desa kita. Lihat paman !, banyak tetangga tetanggaku yang ikut mengusir tomcat dengan caraku !”

“Anak edan !, sampai satu bulanpun kamu berjingkrakan seperti itu tidak akan berhasil mengusir tomcat “

“Maksud paman, bagaimana ?”

“Mereka seperti kita, apabila rumah dan makanan mereka telah terusikpun mereka akan mecari rumah lainnya “

“Tapi mereka telah menggigit tetangga kita ?”

“Mereka tewas ?”

“Tidak ?”

“Berapa tomcat yang kau bunuh ?” bentakan Langgeng Budarjo kian menggema memecah pekatnya malam.
 “Sudah banyak, paman !” jawab Sukoco jujur.

“Itu perlakuan tidak adil namanya !” seru Langgeng.

“Merekakan hanya serangga  !!!! “ Sukoco mulai tersudut dengan

“Mengapa kamu komat kamit dan berteirak teriak menggegerkan kampung, kalau mereka hanya binatang ?”

“Paman !, mereka semua pasti dikerahkan kekuatan gaib yang marah kepada kita. Mereka sepertinya telah bertindak diluar wajar “

“Apa mereka mampu mendengar permintaanmu ?”

“Aku minta kepada sang penunggu desa kita , yang mengerahkan tomcat itu ?”

“Sukoco !, tomcat bukan saja menyerang desa kita. Tapi sudah menyerang ke wilayah lainya di negara kita. Apa sang penunngu itu menyebarkan tomcatnya  ke seluruh wilayah negara kita. Pakailah nalar, Sukoco. Aku juga warga desa sini yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, tapi aku pakai nalar “

“Paman, seperti juga ulat bulu tahun kemarin, mereka juga menyerang desa kita !” sahut Sukoco.

“Mengapa tidak kau pintakan pada sang penunggu desa ini, akhirnya mereka hilang sendiri kan ?”

“Apa salah saya berdoa kalau kita kena musibah ?” tanya Sukoco.

“Kalau berdoa dilarang, jelas menyalahi ajaran leluhur kita. Tapi berdoalah kepada Tuhan Yang Kuasa bukan dengan cara seperti orang kesurupan ?” jawab Langgeng dengan penuh bijaksana. Kini terlihatlah sorot mata Sukoco yang sudah tak seliar tadi.

“Baiklah , paman !. Terserah apa maunya  paman “

“Baiklah Sukoco !, dan semua saudara saudaraku. Serangan Tomcat seperti ini tidak akan bis dihentikan dengan cara apapun. Yang pertama mereka sudah kehilangan banyak wereng yang menjadi makanan mereka, karena obat serangga. Disamping itu juga musim di wilayah kita sudah rusak, sehingga kehidupan merekapun sudah diluar kewajaran
alam. Mereka akan hilang sendiri jika musim kembali normal. Kalian semua jangan tersihir tomcat tomcat ini. Mereka tidak akan menggigit kita, mereka juga bukan hewan berbisa. Jadi tutuplah semua pintu dan jendela rumah kita kalau malam tiba. Matikan lampu sebelah dalam, biarka lampu diluar rumah menyala. Ini bukan kemarahan sang penunggu desa ini “

Kerumunan warga desa itu menjadi bubar, masing masing warga berjalan dengan muka tetunduk. Terlebih lebih Sukoco yang tanpa pamit meninggalkan kerumunan itu dan mengunci pintunya rapat-rapat. Tinggalah Langgeng Budarjo yang termangu di tengah pekarangan rumah Sukoco terpagut dinginya udara malam desa Gondang Manis yang masih hijau lestari. Dalam hatinya kini terselip rasa syukur yang dalam, karena saudara saudaranya tidak terjerumus dalam kepercayaan yang sesat***

Demokrasi Mi Ayam



Terdengar suara benturan antara piring dan mangkok, serta benda kaca lainya yang terus saja terdengar di pangkalan pedagang mi ayam milik pengusaha  Soebroto sepanjang siang ini. Gerobag-gerobag mi ayam sudah mulai terisi dengan mi seduhan serta lobak dan bawang goreng. Tawa yang lepas dari belasan pedagang mi ayam juga terkadang sesekali terdengar. Sehingga lengkap sudah kebisingan di pangkalan itu sepanjang hari ini.
Ada ada saja perangai pedagang mi ayam tersebut, sebagian dari mereka layaknya anggota dewan yang asyik mengomentari situasi politik negeri berwajah sembab ini, seraya mempersiapkan dagangan mi ayam untuk sore nanti. Sebagian lagi masih mengusung sikap moralis menurut kemampuan pedagang mi ayam itu, yang hanya berpendidikan paling tinggi SMP. Tetapi hanya satu dua yang kerap membisu dan hanya menjadi pendengar setia.
Beberapa kertas harian cetak bekas bungkus belanja tergolek di meja dapur yang sudah kelihatan lusuh dan beberapa diantaranya sudah sobek, sesekali diantara mereka membaca edisi beberapa hari sebelumnya, untuk sekedar menimba pengetahuan tentang situasi politik, perseteruan para petinggi negeri berwajah sembab ini dan kehidupan artis yang puyeng-puyengan. Narto tak segan-segan meneluangkan waktunya untuk membaca kasus Angelina Sondakh, Gayus Tambunan dan beberapa topik yang hangat di masyarakat.
“Narto !, beli koran yang hari ini saja, kan  katanya Gayus sudah divonis ?” Kang Dirman berkomentar dengan wajah yang tertekuk cemberut,  karena rasa lelah disekitar tubuhnya yang belum hilang. Meski pagi tadi tenggorokanya sudah dibasahi minuman suplemen.
“He..eh Mas, aku dengar di TV sudah divonis 6 tahun, jadi vonisnya sekarang menjadi 28 tahun “
“Kok lama ya!, salahnya apa saja ? ” seru Kang Dirman
“Ya pokonya korupsi lah !, aku juga tidak tahu masalahnya apa !”
“Kadang kadang aku juga heran ! “ Kang Dirman sementara menunda pekerjaanya untuk mencuci daging  ayamnya, dia meletakan ember berisi daging ayam tersebut dan duduk di samping Narto yang beberapa tahun lebih muda.
“Kok pake heran segala, sih ?” tanya Narto.
“Apa mereka yang korupsi milyaran tidak pernah jalan-jalan ke desa tempat keluarga kita tinggal ?.”
“Untuk apa repot-repot koruptor  jauh-jauh meninjau kampung kita. Enakan di Jakarta yang apa saja tersedia dengan mudah” sanggah Amran yang asyik meneguk kopi panasnya dan mulai gabung dengan teman teman sekampungnya yang berdiskusi dengan seloroh dan santai.
“Nggak gitu Mran !, mereka kita harapkan mau mengembalikan uang yang dikorup untuk membangun kembali sekolah SD anak anak kita yang rusak. Atau mereka mau melunasi SPP anak anak kita yang kadang kadang disuruh pulang karena belum lunas SPP”
“Itu namanya bukan koruptor . Mana ada koruptor seperti itu ?. Tukas Hamidi
 “Mengapa ?. Bukankah koruptor itu manusia ?”.Kang Dirman tidak mau kalah dengan jawaban Hamidi, yang baru saja selesai mandi pagi dengan piring dipenuhi sarapan nasi hangat dan mi instan rebus di kedua tanganya.
“Ya tentunya manusia. Cuma kalau kita bicara masalah koruptor, jangan kita bicara masalah dosa atau tidak. Tapi tanyalah kita punya kesempatan korupsi atau tidak ?”. Jawab Hamidi dengan mulut yang mulai mengunyah nasi hangat sarapanya.
“Maksudnya gimana, Pak De ? ” tanya Amran.
“Kita semua gampang dan bisa melakukan korupsi  di negara ini “ Meskipun Hamidi belum selesai sarapan paginya. Namun dia tetap memberikan paparanya dengan semangat.
“Mengapa, Pak De ? ” sekarang giliran Narto yang bertanya.
“Bukan masalah mengapa ? Petanyaanmu salah, Narto ?. Harusnya kamu bertanya mengapa kita tidak korupsi ?”
“Lha !, yang mau dikorupsi apa, wong kita cuma pedagang mi ayam “ Jawab Dirman
“Itulah masalahnya Dirman !. Kalau kita pejabat kitapun gampang melakukan korupsi. Iya kan ?. Kamu pingin kaya kan ?. Untuk apa jualan mi ayam kalau kamu  sudah kaya !”
“Tapi masalahnya buat apa kita kaya, bila harus masuk penjara “ Kembali Kang Dirman menyanggah pendapat Pak De Hamidi.
“Nah, sikap seperti itulah yang seharusnya dimiliki  oknum pemimpin kita. Mereka tidak lagi melakukan korupsi karena beratnya hukuman yang harus mereka terima “
“Tapi nyatanya !,  penjara saja tidak membuat para koruptor lainnya jera. Coba bayangkan beberapa koruptor telah dijerat dengan pasal korupsi, tapi nyatanya masih terus kita baca dari koran dan melihat TV  tentang kasus korupsi” Kang Dirman mulai bersemangat mengusung pendapatnya.
Mereka kini seakan-akan bukan lagi pedagang mi ayam, tapi bagaikan para pakar hukum dan anggota dewan yang sedang berkiat menepis korupsi di negara yang terpuruk ini. Meski mereka hanya tamatan SD dan SMP, tapi mereka juga masih memeliki sebersit harapan untuk sebuah keadilan dinegeri archipelago ini. Sehingga mereka tak lagi dihantui biaya untuk menyekolahkan anak mereka yang setinggi langit, tak ada lagi kenaikan BBM yang menyulut kenaikan harga lainnya.
Meski hari semakin merambat siang, matahari hampir mencapai ubun-ubun mereka. Namun inilah diskusi ala kadarnya bagi sang ilalang yang tak memiliki  hari besok untuk menyandarkan hidupnya demi sesuap nasi dan sekolah anak-anak mereka. Kang Dirman, Narto dan Amran masih bersungut-sungut wajahnya, seakan tidak sabar lagi untuk menyaksikan negeri ini bernafas tanpa korupsi dan koruptor yang memang telah mendarah daging di tiap sendi kehidupan semua masyaakat kita.
“Huuh, memang rumit membicarakan korupsi di negeri ini. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana awalnya kok banyak korupsi di negara ini. Sementara kita mencari uang 40 ribu sehari saja payahnya bukan main. Sementara yang disana, enak saja melakukan korupsi uang negara bermilyar milyar rupiah” Amran memulai lagi diskusi yang beberapa saat tadi terhenti, karena semua peserta diskusi hanya mampu membisukan hatinya masing-masing.
“Betul katamu, Mran !. Kita hanya pedagang mi ayam, kita ini apa ?” seru Narto
“Apa yang boleh berbicara masalah korupsi harus orang gedongan. Apa kita tidak boleh bicara masalah korupsi ?” seru Kang Dirman.
“Hehehe…tidak ada salahnya kita ngrumpi tentang korupsi. Kita ambil manfaatnya saja “ Hamidi berusaha untuk menghangatkan kembali diskusi itu. Sarapan nasi hangat kini sudah semuanya masuk ke perutnya, yang kelihatanya sudah agak buncit. Memang berbicara masalah korupsi dan koruptor,  pedagang mi ayam ini yang paling getol unjuk pendapat. Meski seluruh rambutnya sudah putih semua, karena usianya telah mencapai usia 70 tahun-an. Tetapi fisiknya masih kelihatan tegap dan bugar. Pedagang mi ayam ini termasuk manusia Indonesia yang hidup dalam lima jaman, lengkap sudah dia mengenyam kehidupan negara kita dalam era penjajahan Belanda, Jepang dan Jaman Revolusi Fisik di bawah pimpinan Soekarno, Orde Baru dan Reformasi sekarang ini. Maka wajar saja semangat nasionalisme pada dirinya masih begitu kuatnya.
Buah hasil dari kehidupan lintas jaman yang dia lalui, adalah sikap antipasti pada korupsi dan koruptor, yang sangat gigih dibrantas sejak era Penjajahan Belanda hingga sekarang.
“Manfaat yag bagaimana, Pak De ?” tanya Kang Dirman yang baru berusia setaraf anaknya.
“Kita bisa member keteladanan pada anak cucu kita, agar mereka semua bersikap jujur dan semeleh “ jawab Hamidi dengan suara datar meski pelan tetapi mampu menghipnotis semua pedagang mi ayam yang berkumpul di forum diskusi non formal, meski hanya diskusi asal-asalan yang tidak memiliki dasar dan fakta.
“Hmm..memang  tidak masuk akal jika kita ingin mengembalikan kehidupan rakyat kita seperti jaman jaman sebelum ini. Jaman dahulu, para petinggi kita sama sekali tidak berani korupsi demi nama baik partai. Mereka memang rakyat Indonesia yang betul betul mendarah daging cintanya terhadap partai dan negara. Bilamana perlu nyawapun dikorbankan demi keyakinan politik mereka “ Jawab Hamidi di tengah peserta diskusi yang hanya diam membisu.
“Pak De dahulu masuk partai apa ?” tanya Narto
“Aku masih kecil, aku belum tahu apa-apa “
“Tapi Pak De kok tahu mereka sangat mencintai negara ini ?”
“Setiap kali aku berkumpul di depan rumuh saat udara malam cerah,  bapaku sering bercerita tentang teman-temanya yang berjuang di partainya “
“Sekarang banyak oknum pejabat korupsi karena budaya, ya Pak De “ tanya Kang Dirman.
“Ah, mungkin karena hukumanya terlalu ringan. Kalau di Cina malah ditembak mati” jawab Narto.
“Ya begitulah, kita sekarang juga lagi korupsi lho “
“Lho, korupsi apa ?” jawab mereka serentak
“Kita korupsi waktu, kita korupsi pada anak istri kita “
“Ah, Pak De ini gimana sih ?” jawab Narto penasaran.
 “Kita jauh jauh datang dari desa untuk bekerja menafkahi anak istri kita. Tidak ngrumpi seperti ini, hehehe..Ini namanya di mangkok mi ayam kita juga ada koruptor, yaitu kita sendiri. Ayo lanjutkan kerja kita hahaha “
“Hahahahaha” semua peserta diskusipun menjadi geli mendengar seloroh pedagang mi ayam yang masih tinggi nasionalisme yang ada di dadanya. Semua kini ngeloyor menuju kompor minyak, gerobag, penggorengan dan peralatan masing-masing***