Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Rabu, 26 Desember 2012
Kamis, 22 November 2012
Sihir Tomcat
SENJA sudah mulai menggelapi rumah
sederhana, yang berlantai semen dan berdinding setengah bata. Atap rumah
sederhana yang terbuat dari genteng merah sederhana itu, masih menyimpan hangat
terkaman sinar matahari yang seharian penuh tadi mengakrabinya. Angin pancaroba
yang seharian menerbangkan debu debu dari arah bentangan
sawah di sebelah mulai lelah, berganti dengan langkahnya yang semilir.
Sehingga semua daun pisang di halaman belakang, hanya mampu tertunduk lesu.
Seperti biasa tiap senja menyelinap
pekarangan rumahnya, Sukoco mulai memutar-mutar lampu neon lusuh 10 Watt
di halaman depan agar mampu menyala. Meski sinarnya sudah mulai surut, namun lampu
neonya mampu menerangi jalan tanah yang ada di depan rumahnya. Sehingga lubang
lubang jalan yang dilindas roda pedati kini dapat terlihat jelas. Terdengar
batuk batuk kecil Sukoco menyelinap dinantara kelengangan desanya yang sedang
dirundung sebuah kegetiran. Batuknya semakin melengking saat , semilir angin senja mulai membalut tubuh
Sukoco yang kurus kering itu. Namun lelaki yang menghabiskan seluruh hidupnya
di sawah ladang itu, lebih memilih menghangatkan tubuhnya dengan menutup rapat
rapat dengan sarungnya yang kumal.
Sukoco segera beranjak dari duduknya, setelah
beberapa serangga tomcat beterbangan dan hinggap di dinding beranda rumahnya, segera dia berkelit kesana
kemari, mirip Pendekar Rajawali dalam serial silat mandarin “Return of The
Condor Hero” yang mahir memainkan pedangnya. Sarungnya yang tadinya membungkus
tubuhnya kini berganti digunakan untuk menyambar setiap tomcat yang terbang di
seputar tubuhnya. Rupanya tomcat itu kembali menyatroni rumah papanya dan kini
nampaknya semakin bertambah banyak jumlahnya. Rasa kesal Sukoco kembali mengisi
seluruh hatinya seperti malam malam sebelumnya. Padahal kemarin malam sudah
cukup banyak serangga itu bergelimpangan di lantai semen setiap penjuru
rumahnya, setelah dia semprot dengan
obat serangga sisa dari musim tanam
kemarin.
Namun kawanan tomcat itu tidak menggubrisnya, seakan akan
mereka tahu bahwa Sukoco dan
teman-temanya yang mengusik ketentraman hidup mereka, petani desa itulah yang
membunuh wereng yang menjadi santapan mereka setiap hari, ditambah dengan bau
obat serangga yang merambah setiap
jengkal sawah mereka, yang telah membuat mereka mual perutnya dan memeningkan
kepalanya. Bahkan tidak sedikit teman
mereka yang tersungkur menghembuskan nafas.
“Tomcat sialan, ayo maju rasakan sarungku !!!’.
Setelah beberapa puluh tomcat bergelimpangan, Sukoco segera kembali siaga
dengan kuda-kudanya mirip pendekar
sakti yang menantang musuhnya. Mendengar
teriakan Sukoco yang memecahkan keheningan senja di tengah perkampungan petani
yang dibelit kesusahan hidup. Beberapa
tetangganya segera merangsek mendekati
Sukoco, yang kini mengerahkan semua jurus silatnya dari mulai aliran mandarin
hingga jurus Betawi untuk mengalahkan tomcat.
“Pak !, jangan seperti orang gila !, malu
dilihat tetangga !!” teriak istrinya yang mengambil langkah seribu keluar rumah
setelah mendengar kegaduhan yang dibuat suaminya.
“Biar saja !, biar semua tomcat ini mampus
!, aku sudah semprot dengan oabt serangga, tetapi mereka tidak mati !” Sukoco
sudah menepikan akal sehatnya, memang dia telah kesal dengan tomcat-tomcat
durjana yang nekad menyebar di rumahnya dan sebagian menyerang gabah yang baru
saja dipanenya.
“Tapi jangan seperti orang gila !”.
Lengkingan Ponirah membentur dinding bambu rumah tetangganya yang berjajar di
jalan tanah berlapis batu kali yang berhamburan di atasnya.
“Yang gila aku apa tomcat, Pon ?” teriakan
Sukoco dibarengi kedua matanya yang melotot pada Ponirah istrinya.
“Kalau yang gila tomcatnya!, apa kita akan
menirunya ?” kembali Ponirah mengajukan protes keras.
“Iya!, kalau perlu !, lihat tuh Pon!. Semua
tetangga kita sekarang jadi edan memburu tomcat sialan ini. Jelas ini kemarahan
sang penunggu sawah-sawah kita. Sehingga tomcat ini menjadi berani dengan kita
“ Kedua kaki Sukoco kini berhenti berjingkrakan yang tadinya mirip Jacko yang
asyik menyanyikan lagu “Black and White”. Kini sarungnya dikalungkan ke
lehernya, mulutnya mulai berkomat kamit menghujamkan mantra sakti pada kawanan
tomcat yang kini masih beterbangan kesana kemari di dalam dan pekarangan rumah
papan Sukoco.
“Pak, kamu tambah memalukan. Ingat Pak !,
tetangga kita mulai berdatangan menontonmu, Pak ingat,Pak !!!!!”.
“Edan kamu !, tomcat itu tidak sembarangan
hewan, tidak seperti biasanya mereka berani dengan kita. Mesti ini karena sihir
penunggu sawah kita. Sekarang diam kamu !”
Kerumunan tetangga Sukoco bertambah rapat,
beberapa diantaranya juga ikut berkomat
kamit mulutnya, wajah wajah mereka tengadah
ke langit hitam. Mereka kini semua berniat mengajukan protes pada siluman siluman
di langit sana yang menggembalakan tomcat yang liar dan ganas. Terlebih lebih
Sukoco yang merasa menjadi pusat perhatian tetangganya menjadi semakin liar dan
tak tahu malu. Seluruh tubuhnya kini mengginggil, dan dari mulutnya terdengar
suara melengking.
“Hei, sang penunggu Desa Gondang Manis!, Hentikan kemarahanmu !, bawa
pulang kembali tomcat kamu semua !“ seru Sukoco.
“Sukoco !!!!”, panggil Langgeng Budarjo yang
memecahkan konsentrasi Sukoco yang berdiri di tengah kerumunan lengkap dengan
pasang aksi yang berhasil menghipnotis tetangganya yang meyakini kekonyolan
Sukoco. Laki laki kurus kering itu segera menghentikan mulutnya yang
komat-kamit, dan segera menyapu sorot mata tajam pada lelaki tua beruban yang
kini berdiri di depanya.
“Ada apa, paman !”
“Kamu sudah edan !” bentak Langgeng Budarjo
yang seusia ayah Sukoco.
“Jangan usil dengan niat saya, paman !, ini
demi ketentraman desa kita. Lihat paman !, banyak tetangga tetanggaku yang ikut
mengusir tomcat dengan caraku !”
“Anak edan !, sampai satu bulanpun kamu
berjingkrakan seperti itu tidak akan berhasil mengusir tomcat “
“Maksud paman, bagaimana ?”
“Mereka seperti kita, apabila rumah dan
makanan mereka telah terusikpun mereka akan mecari rumah lainnya “
“Tapi mereka telah menggigit tetangga kita
?”
“Mereka tewas ?”
“Tidak ?”
“Berapa tomcat yang kau bunuh ?” bentakan
Langgeng Budarjo kian menggema memecah pekatnya malam.
“Sudah
banyak, paman !” jawab Sukoco jujur.
“Itu perlakuan tidak adil namanya !” seru
Langgeng.
“Merekakan hanya serangga !!!! “ Sukoco mulai tersudut dengan
“Mengapa kamu komat kamit dan berteirak
teriak menggegerkan kampung, kalau mereka hanya binatang ?”
“Paman !, mereka semua pasti dikerahkan
kekuatan gaib yang marah kepada kita. Mereka sepertinya telah bertindak diluar
wajar “
“Apa mereka mampu mendengar permintaanmu ?”
“Aku minta kepada sang penunggu desa kita ,
yang mengerahkan tomcat itu ?”
“Sukoco !, tomcat bukan saja menyerang desa
kita. Tapi sudah menyerang ke wilayah lainya di negara kita. Apa sang penunngu
itu menyebarkan tomcatnya ke seluruh
wilayah negara kita. Pakailah nalar, Sukoco. Aku juga warga desa sini yang
tidak mengenyam pendidikan tinggi, tapi aku pakai nalar “
“Paman, seperti juga ulat bulu tahun
kemarin, mereka juga menyerang desa kita !” sahut Sukoco.
“Mengapa tidak kau pintakan pada sang
penunggu desa ini, akhirnya mereka hilang sendiri kan ?”
“Apa salah saya berdoa kalau kita kena
musibah ?” tanya Sukoco.
“Kalau berdoa dilarang, jelas menyalahi
ajaran leluhur kita. Tapi berdoalah kepada Tuhan Yang Kuasa bukan dengan cara
seperti orang kesurupan ?” jawab Langgeng dengan penuh bijaksana. Kini
terlihatlah sorot mata Sukoco yang sudah tak seliar tadi.
“Baiklah , paman !. Terserah apa maunya paman “
“Baiklah Sukoco !, dan semua saudara
saudaraku. Serangan Tomcat seperti ini tidak akan bis dihentikan dengan cara
apapun. Yang pertama mereka sudah kehilangan banyak wereng yang menjadi makanan
mereka, karena obat serangga. Disamping itu juga musim di wilayah kita sudah
rusak, sehingga kehidupan merekapun sudah diluar kewajaran
alam. Mereka akan hilang sendiri jika musim
kembali normal. Kalian semua jangan tersihir tomcat tomcat ini. Mereka tidak
akan menggigit kita, mereka juga bukan hewan berbisa. Jadi tutuplah semua pintu
dan jendela rumah kita kalau malam tiba. Matikan lampu sebelah dalam, biarka
lampu diluar rumah menyala. Ini bukan kemarahan sang penunggu desa ini “
Kerumunan warga desa itu menjadi bubar,
masing masing warga berjalan dengan muka tetunduk. Terlebih lebih Sukoco yang
tanpa pamit meninggalkan kerumunan itu dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Tinggalah Langgeng Budarjo yang termangu di tengah pekarangan rumah Sukoco
terpagut dinginya udara malam desa Gondang Manis yang masih hijau lestari.
Dalam hatinya kini terselip rasa syukur yang dalam, karena saudara saudaranya
tidak terjerumus dalam kepercayaan yang sesat***
Demokrasi Mi Ayam
Terdengar suara benturan antara
piring dan mangkok, serta benda kaca lainya yang terus saja terdengar di pangkalan
pedagang mi ayam milik pengusaha
Soebroto sepanjang siang ini. Gerobag-gerobag mi ayam sudah mulai terisi
dengan mi seduhan serta lobak dan bawang goreng. Tawa yang lepas dari belasan
pedagang mi ayam juga terkadang sesekali terdengar. Sehingga lengkap sudah kebisingan
di pangkalan itu sepanjang hari ini.
Ada ada saja perangai pedagang mi
ayam tersebut, sebagian dari mereka layaknya anggota dewan yang asyik
mengomentari situasi politik negeri berwajah sembab ini, seraya mempersiapkan
dagangan mi ayam untuk sore nanti. Sebagian lagi masih mengusung sikap moralis
menurut kemampuan pedagang mi ayam itu, yang hanya berpendidikan paling tinggi
SMP. Tetapi hanya satu dua yang kerap membisu dan hanya menjadi pendengar
setia.
Beberapa kertas harian cetak bekas
bungkus belanja tergolek di meja dapur yang sudah kelihatan lusuh dan beberapa
diantaranya sudah sobek, sesekali diantara mereka membaca edisi beberapa hari
sebelumnya, untuk sekedar menimba pengetahuan tentang situasi politik,
perseteruan para petinggi negeri berwajah sembab ini dan kehidupan artis yang
puyeng-puyengan. Narto tak segan-segan meneluangkan waktunya untuk membaca
kasus Angelina Sondakh, Gayus Tambunan dan beberapa topik yang hangat di
masyarakat.
“Narto !, beli koran yang hari ini
saja, kan katanya Gayus sudah divonis ?”
Kang Dirman berkomentar dengan wajah yang tertekuk cemberut, karena rasa lelah disekitar tubuhnya yang
belum hilang. Meski pagi tadi tenggorokanya sudah dibasahi minuman suplemen.
“He..eh Mas, aku dengar di TV sudah
divonis 6 tahun, jadi vonisnya sekarang menjadi 28 tahun “
“Kok lama ya!, salahnya apa saja ? ”
seru Kang Dirman
“Ya pokonya korupsi lah !, aku juga
tidak tahu masalahnya apa !”
“Kadang kadang aku juga heran ! “
Kang Dirman sementara menunda pekerjaanya untuk mencuci daging ayamnya, dia meletakan ember berisi daging
ayam tersebut dan duduk di samping Narto yang beberapa tahun lebih muda.
“Kok pake heran segala, sih ?”
tanya Narto.
“Apa mereka yang korupsi milyaran
tidak pernah jalan-jalan ke desa tempat keluarga kita tinggal ?.”
“Untuk apa repot-repot koruptor jauh-jauh meninjau kampung kita. Enakan di Jakarta
yang apa saja tersedia dengan mudah” sanggah Amran yang asyik meneguk kopi
panasnya dan mulai gabung dengan teman teman sekampungnya yang berdiskusi
dengan seloroh dan santai.
“Nggak gitu Mran !, mereka kita
harapkan mau mengembalikan uang yang dikorup untuk membangun kembali sekolah SD
anak anak kita yang rusak. Atau mereka mau melunasi SPP anak anak kita yang
kadang kadang disuruh pulang karena belum lunas SPP”
“Itu namanya bukan koruptor . Mana
ada koruptor seperti itu ?. Tukas Hamidi
“Mengapa ?. Bukankah koruptor itu manusia
?”.Kang Dirman tidak mau kalah dengan jawaban Hamidi, yang baru saja selesai mandi
pagi dengan piring dipenuhi sarapan nasi hangat dan mi instan rebus di kedua
tanganya.
“Ya tentunya manusia. Cuma kalau
kita bicara masalah koruptor, jangan kita bicara masalah dosa atau tidak. Tapi
tanyalah kita punya kesempatan korupsi atau tidak ?”. Jawab Hamidi dengan mulut
yang mulai mengunyah nasi hangat sarapanya.
“Maksudnya gimana, Pak De ? ” tanya Amran.
“Kita semua gampang dan bisa
melakukan korupsi di negara ini “
Meskipun Hamidi belum selesai sarapan paginya. Namun dia tetap memberikan
paparanya dengan semangat.
“Mengapa, Pak De ? ” sekarang giliran Narto yang bertanya.
“Bukan masalah mengapa ?
Petanyaanmu salah, Narto ?. Harusnya kamu bertanya mengapa kita tidak korupsi
?”
“Lha !, yang mau dikorupsi apa, wong kita cuma pedagang mi ayam “
Jawab Dirman
“Itulah masalahnya Dirman !. Kalau
kita pejabat kitapun gampang melakukan korupsi. Iya kan ?. Kamu pingin kaya kan
?. Untuk apa jualan mi ayam kalau kamu sudah kaya !”
“Tapi masalahnya buat apa kita
kaya, bila harus masuk penjara “ Kembali Kang Dirman menyanggah pendapat Pak De Hamidi.
“Nah, sikap seperti itulah yang
seharusnya dimiliki oknum pemimpin kita.
Mereka tidak lagi melakukan korupsi karena beratnya hukuman yang harus mereka
terima “
“Tapi nyatanya !, penjara saja tidak membuat para koruptor
lainnya jera. Coba bayangkan beberapa koruptor telah dijerat dengan pasal
korupsi, tapi nyatanya masih terus kita baca dari koran dan melihat TV tentang kasus korupsi” Kang Dirman mulai
bersemangat mengusung pendapatnya.
Mereka kini seakan-akan bukan lagi
pedagang mi ayam, tapi bagaikan para pakar hukum dan anggota dewan yang sedang
berkiat menepis korupsi di negara yang terpuruk ini. Meski mereka hanya tamatan
SD dan SMP, tapi mereka juga masih memeliki sebersit harapan untuk sebuah
keadilan dinegeri archipelago
ini. Sehingga mereka tak lagi dihantui biaya untuk menyekolahkan anak mereka yang
setinggi langit, tak ada lagi kenaikan BBM yang menyulut kenaikan harga
lainnya.
Meski hari semakin merambat siang,
matahari hampir mencapai ubun-ubun mereka. Namun inilah diskusi ala kadarnya
bagi sang ilalang yang tak memiliki hari
besok untuk menyandarkan hidupnya demi sesuap nasi dan sekolah anak-anak
mereka. Kang Dirman, Narto dan Amran masih bersungut-sungut wajahnya, seakan
tidak sabar lagi untuk menyaksikan negeri ini bernafas tanpa korupsi dan
koruptor yang memang telah mendarah daging di tiap sendi kehidupan semua
masyaakat kita.
“Huuh, memang rumit membicarakan
korupsi di negeri ini. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana awalnya kok banyak
korupsi di negara ini. Sementara kita mencari uang 40 ribu sehari saja payahnya
bukan main. Sementara yang disana, enak saja melakukan korupsi uang negara
bermilyar milyar rupiah” Amran memulai lagi diskusi yang beberapa saat tadi terhenti,
karena semua peserta diskusi hanya mampu membisukan hatinya masing-masing.
“Betul katamu, Mran !. Kita hanya
pedagang mi ayam, kita ini apa ?” seru Narto
“Apa yang boleh berbicara masalah
korupsi harus orang gedongan. Apa kita tidak boleh bicara masalah korupsi ?”
seru Kang Dirman.
“Hehehe…tidak ada salahnya kita ngrumpi tentang korupsi. Kita ambil
manfaatnya saja “ Hamidi berusaha untuk menghangatkan kembali diskusi itu.
Sarapan nasi hangat kini sudah semuanya masuk ke perutnya, yang kelihatanya
sudah agak buncit. Memang berbicara masalah korupsi dan koruptor, pedagang mi ayam ini yang paling getol unjuk
pendapat. Meski seluruh rambutnya sudah putih semua, karena usianya telah
mencapai usia 70 tahun-an. Tetapi fisiknya masih kelihatan tegap dan bugar. Pedagang
mi ayam ini termasuk manusia Indonesia yang hidup dalam lima jaman, lengkap
sudah dia mengenyam kehidupan negara kita dalam era penjajahan Belanda, Jepang
dan Jaman Revolusi Fisik di bawah pimpinan Soekarno, Orde Baru dan Reformasi
sekarang ini. Maka wajar saja semangat nasionalisme pada dirinya masih begitu
kuatnya.
Buah hasil dari kehidupan lintas
jaman yang dia lalui, adalah sikap antipasti pada korupsi dan koruptor, yang
sangat gigih dibrantas sejak era Penjajahan Belanda hingga sekarang.
“Manfaat yag bagaimana, Pak De ?” tanya Kang Dirman yang baru
berusia setaraf anaknya.
“Kita bisa member keteladanan pada
anak cucu kita, agar mereka semua bersikap jujur dan semeleh “ jawab Hamidi dengan suara datar meski pelan tetapi
mampu menghipnotis semua pedagang mi ayam yang berkumpul di forum diskusi non
formal, meski hanya diskusi asal-asalan yang tidak memiliki dasar dan fakta.
“Hmm..memang tidak masuk akal jika kita ingin mengembalikan
kehidupan rakyat kita seperti jaman jaman sebelum ini. Jaman dahulu, para
petinggi kita sama sekali tidak berani korupsi demi nama baik partai. Mereka
memang rakyat Indonesia yang betul betul mendarah daging cintanya terhadap
partai dan negara. Bilamana perlu nyawapun dikorbankan demi keyakinan politik
mereka “ Jawab Hamidi di tengah peserta diskusi yang hanya diam membisu.
“Pak De dahulu masuk partai apa ?”
tanya Narto
“Aku masih kecil, aku belum tahu
apa-apa “
“Tapi Pak De kok tahu mereka sangat
mencintai negara ini ?”
“Setiap kali aku berkumpul di depan
rumuh saat udara malam cerah, bapaku
sering bercerita tentang teman-temanya yang berjuang di partainya “
“Sekarang banyak oknum pejabat
korupsi karena budaya, ya Pak De “ tanya Kang Dirman.
“Ah, mungkin karena hukumanya
terlalu ringan. Kalau di Cina malah ditembak mati” jawab Narto.
“Ya begitulah, kita sekarang juga
lagi korupsi lho “
“Lho, korupsi apa ?” jawab mereka
serentak
“Kita korupsi waktu, kita korupsi
pada anak istri kita “
“Ah, Pak De ini gimana sih ?” jawab
Narto penasaran.
“Kita jauh jauh datang dari desa untuk bekerja
menafkahi anak istri kita. Tidak ngrumpi seperti ini, hehehe..Ini namanya di
mangkok mi ayam kita juga ada koruptor, yaitu kita sendiri. Ayo lanjutkan kerja
kita hahaha “
“Hahahahaha” semua peserta
diskusipun menjadi geli mendengar seloroh pedagang mi ayam yang masih tinggi
nasionalisme yang ada di dadanya. Semua kini ngeloyor menuju kompor minyak,
gerobag, penggorengan dan peralatan masing-masing***
Langganan:
Postingan (Atom)
