Jumat, 14 Desember 2012

Salam untuk Negeriku

Merdeka !!! “,  pekik itu sayup menyelinap di padang berlantai duri

lenyap  dipinang hiasan jaman dengan pemanis warna warni,

setiap ranum bunga, dahan dan  daun melekang kering diterkam

angin prahara dari jaman yang runtuh.

hanya menyisakan dada dada kosong  anak jaman berias wajah mengerikan

menerpa tanah hunian  sang mutumanikam, 

laksana  gempita tsunami dari Tambora dan Krakatau

lantang menghardik semilir sejuk angin sorga  membawa sari hidup

damai mengusung detik esok hari penuh ceria.

 

tiada lagi  sosok penyejuk jaman  menjinjing epos pahlawan

tiada lagi tangan tangan sejuk terbentang bergayut di bahu yang kokoh,

layar perahu telah terkembang menampilkan mozaik tangis dan pilu

saat daun pandan di halaman archipelago negeriku  layu berkoyak kepalsuan

dijerat syahwat iblis iblis jaman di siang hari bolong.

 

kita harus mengadu pada siapa ?

nyanyi rindu  pada bunga bunga bangsa harum wewangi sepanjang

tanah lapang tempat berkejaran anak anak kita mengejar pipit dan

kenari. Dalam seloroh di tanah nyaman tak berujung gerigi tajam.

ak ada lagi mesiu tempat mengungkap kata hati yang sumbang

muram durja kita, disambut gempita sorak iblis,

bersemayam  di benak anak anak kita di tepi puing jaman.E

 

masihkah kita hirau ?

jangan hiraukan sihir tajam dari iblis bermata juling

 

 

(Semarang, 10 Desember 2012)

 

 

1.      Pesan  Emaku

 

mengapa kita tak pandai ?

menyimpan petuah dan cerita emak,

tentang   wajah monster  jaman  menghadang

hingga berulang kali  emaku  mengerutkan kening

sorot matanya jauh menembus dinding jantungku

 

emak !, memang sulit untuk memebenahi

anakmu yang meregang dicumbu “reformasi” yang dikais

dari puing negeri yang tercabik tangis pilu

tak ada lagi rajutan kain biru darimu, untuk medinginkan

gemertak tulang iga

 

namun emak  tak akan lagi harus basah

keriput dan legam pipimu,  tak akan lagi haru

yang meregangkan semua urat nadimu,

tak kan ada lagi riuh gempita rumput kering

meraih basah gerimis diusung angin pasat

 

emak, pelankan deru nafasmu!,

telah pulih dan membiru  atmosfer negeri tempat mandi bidadari

hingga emak masih mampu merapikan semi padi dan sayur.

 

(Semarang, 12  Desember 2012)

 

2.      Anak Ubi dan Sang Iblis

dengarkan kawan !

kita anak ubi, dalam muram durja

kita masih mampu  menghitung arah angin

agar berselingkuh dengan gersang sawah ladang

 

 

anak ubi  tak pernah terpingit dalam keluh

pengap debu debu jalan yang kini ganas,

lantaran kini  saudaraku telah lantang berbicara

dengan bahasa debu dan deru wajah yang menghitam

angin prahara manakah yang meminangnya ?,

 

anak ubi !, janganlah lenyap dalam ikatan kata  mesra !

janganlah kau sembunyikan dirimu di kolong langit

saat semua iblis bangkit dari galian kuburnya

saat mereka mencabik semua warna pelangi

dada kita haruslah membara untuk menghempas sihir sihir

dari lipatan jubah jubah hitam sang iblis

 

dalam relung waktu ke depan terbentang lurus

menyibak jendela langit, mendung kita terjang

prahara kita kemas dalam keranjang kasih, tangan mengepal

kita sambut dengan seloroh anak ubu yang manis ceria

sang iblis tertawan di sudut negeri ini

hingga damai kita padu dengan pagi ceria.

 

(Semarang, 12  Desember 2012)

 

3.       Cakrawala di Sisi Timur

 

cakrawala senja kini  tak sedikitpu bergeming

kita tak akan mampu membalik pusaran bumi

kita diam dalam sudut kamar, menggapai benang putih

namun daun daun pandan di halaman rumah kita

tetap kita semai dengan percikan embun dini hari

 

sisi timur sang cakawala kita gambar

dengan raut wajah cemerlang

biarkan tumbuh pohon jati untuk pilar rumah

ana cucu kita....

 

kita tak segontai langkah anjing anjing liar

yang ganas demi sekerat daging mengoyak hari

kita tak seganas harimau bertatap mata nanar

dengan cengkeraman kuku yang tiada daya

sehingga kita tejerambab dalam kepongahan

dan syak wasangka..

 

tapi kita segagah burung elang merentang sayap

untuk mengintip hari hari yang diusung sang waktu

di cakrawala timur kita hinggap

 

(Semarang, 12  Desember 2012)

 

4.      Benang Putih

 

di tiap nafas, adalah ikatan benang putih

di tiap gemeretak geraham kita, Dia  akan menyejuk

saat sang waktu menebas, kita dalam sorot MataNYA

dalam benang putih kita terbang menjinjing harap

kita sepadan dalam menata negeri pongah  ini

di tepi langit, kita adukan semua keluh dan kesah

 

(Semarang, 12  Desember 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar