Kamis, 22 November 2012

Prahara The Fighting Cock



Tanggal 25 Oktober 1945, sebanyak 6000 The Fighting Cock yang ganas dan ditakuti bala tentara Dai Nippon telah merapat si Pelabuhan Tanjung Perak.  Mereka adalah AFNEI yang tergabung dalam  Brigedir 49, Divisi 23 di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby. Pagi itu sang jenderal tersenyum cerah, secerah udara Surabaya yang mengusung nyanyian pagi di tengah alam Kota Surabaya yang masih hijau dan alami.
Bersama sama dengan Kolonel Pugh, Kapten Smith, Mayor Gopal  dan Kapten Shaw  yang merupakan bawahan sekaligus sahabat setianya, sang jenderal  berjalan-jalan menyelusuri jalan tanah yang tidak jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak. Inilah Surabaya yang hanya dikawal “inlander ingusan”  dengan milisi-milisi hanya bersenjata bilah bambu dan parang. Dalam tiga hari pasti kota ini akan aku rengkuh dengan mudahnya, demikian bisik hati sang jenderal.
Angin kemarau masih menyisakan tiupanya yang kering, meski sekali sekali Kota Surabaya di guyur gerimis. Seakan akan semilir angin kemarau itu berniat menyampaikan pesan kepada semua insan yang sedang didera revolusi dalam kemasan nasionalisme yang tersemat mulia kala itu. Bahwa sematan The Fighting Cock yang berpengalaman lima tahun di hutan Birma dengan persenjataan modern kala itupun  tidak akan mampu melawan sebuah nasionalisme yang memuncak hingga sampai ubun-ubun semua anak bangsa.
Pesan angin kemarau tersebut telah jelas sudah,  ketika Kapten Huijer dari Angkatan Laut Belanda menyambangi Surabaya  sebagai wakil sekutu untuk mengadakan perundingan dengan  Laksamana Madya Yaichiro Shibata, pimpinan tertinggi pasukan Jepang di Surabaya. Maksud kedatangan kapten Belanda itu tidak lain hanya untuk menghindari agar persenjataan tentara Dai Nippon tidak jatuh ke tangan anak anak bangsa pengawal Ibu Pertiwi. Beruntunglah Kaigun Shibata dan Kaigun Maeda telah paham dengan keluhuran patriotisme demi bangsa dan Negara.  Maka petinggi militer tersebut lebih memilih menyerahkan senjata kepada Komite Nasional Indonesia. Ketimbang kepada Kapten Huijer sang NICA, yang masih berambisi untuk merenggut kembali kehormatan Ibu Pertiwi.
Kegeraman hati pemuda muncul di mana mana, mereka tidak mau lagi meski hanya sepenggal tanah dan segelas air diserahkan kembali kepada NICA yang sangat rakus dan tak tahu malu. Dimana mana TKR dan milisi pemuda pembela tanah air bersiaga penuh untuk menerjang apapun yang akan menyentuh harga diri Bumi Nusantara. Teriakan merdeka, kain merah putih di ujung bambu runcing dan semangat membara menuhi semua sudut Kota Surabaya.
Dengan merapatnya NICA yang berganti baju ANFEI di pelabuhan Tanjung Perak pertanda akan ada pesta mesiu, hujan mortir dan pesta bom yang dimuntahkan dari 37 Howitser, puluhan tank Sherman, HMS Sussex dibantu 4 kapal perang destroyer, 12 kapal terbang jenis Mosquito.  Pertanda pula  merah darah yang membungkus putih tulang akan membahana di buaian Ibu Pertiwi.
Sutanto pemuda Surabaya dari Gubeng Pemipin Laskar BPRI Surabaya Timur telah sibuk merajut hati yang berenda api revolusi. Lantaran denyut jantung yang menguat adalah denyut sebuah harga diri yang harus digenggam dengan kokoh. Maka di awal Nopember 1945 diapun sibuk mengumpulkan anak buahnya serta rekan seperjuangan Surabaya Timur dari pemuda TKR, BPRI, BPI dan lain sebagainya, untuk berserentak membungkam Howitser, Sherman, Water Mantel dan lain sebagainya. Dari
dusun dan desa satu ke lainnya yang ia dapatkan hanya sorot mata nanar dari pemuda pemuda asuhan Ibu Pertiwi yang siap membawa NICA dan ANFEI ke lembah neraka. Termasuk juga Nuraeni dari Laskar Tentara Pelajar Gubeng.
Sejenak diluruhkan bara api revolusi yang ada di hatinya, kala dia sudah berada  di rumah Nuraeni. Sebuah rumah yang hanya terbuat dari papan kayu, dengan lantai tanah dan tak seberapa luasnya. Gadis manis namun murah senyum dan matang itu sekarang telah berada di depanya dengan wajah tersipu malu, namun masih menyelipkan rasa kagum terhadap Sutanto yang telah lama hadir di hatinya. Lembutnya benang sutra tiada mampu menceritakan kelembutan cinta antara mereka. Bahkan temaramnya sinar rembulan tiada seberapa di banding kesyahduan dua remaja yang saling melukis warna langit
“Kita akan maju kelaga lagi, dan perjuangan kita semua bakal menghadapi tantangan yang berat. Lantaran Mayor Jenderal Mansergh pengganti Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby yang tewas, bakal menghabiskan amunisinya untuk membalas dendam kematian jenderal yang malang itu” seru pejuang itu dengan suara datar dan dalam. Sementara itu pujaan hatinya hanya duduk tersipu dan rona merah pipinya kini mulai nampak.
“Lantas kita harus bagaimana ?. Bila keadaan sudah seperti ini!”. Nuraeni hanya mampu curi curi pandang pada pemuda berkumis tipis dan berbadan tegap itu. Pantas saja semua pemuda di daerah Gubeng memilihnya sebagai Komandan Laskar BPRI.
“Kita semua telah  menolak ultimatum Letnan Jenderal Christinson, komandan Pasukan Sekutu di Indonesia berdasarkan kesepakatan semua laskar, yang rencananya mau dibacakan habis maghrib nanti”
“Jadi besok kita akan dihanguskan oleh The Fighting Cock, Mas ?”
The Fighting Cock hanya tinggal nama saja. Kemarin ayam aduan itu telah melempar bendera putih, tak lebihnya hanya ayam sayur saja yang takut mati. Untung Pak Karno segera menghentikan semangat kita. Awalnya mereka membanggakan panji The Fighting Cock kemudian dengan semena mena menguasi Morokrembangan, Stasiun Pasar Turi, kantor telepon dan kantor pemeritah lainnya”
“Tapi besok kan mereka mereka dibantu dengan tentara Inggris dari Jakarta”
“Betul dan mereka sudah mulai berdatangan, tadi Sudarno melaporkan, bahwa di Surabaya Kota mulai terjadi konvoy Sherman dan Howitser. Jadi besok mulai jam 6 pagi, aku dan teman teman harus berjuang membungkam mereka satu per satu”
“Aku juga tadi diajak PMI untuk membantu pasukanmu, Mas ?”
“Apa !, siapa yang nyuruh kamu ?, kedatanganku kemari untuk menyuruhmu cepat cepat mengungsi ke Sidoarjo bersama emakmu. Kasihan dia, kau adalah anak satu satunya, kamu adalah segalanya bagi emakmu setelah Bapakmu meninggal tahun lalu. Nur !, memang perjuangan adalah pengorbanan. Tapi bila kau adalah milik satu satunya sebuah keluarga, maka kamu boleh meninggalkan perjuangan ini”
“Aku  hanya di garis belakang, Mas. Paling aku akan bermarkas di pos PMI di sekitar Stasiun Gubeng . Jangan kuatir, Mas ?”
“Nur, besok jam enam pagi Surabaya membara. Bombandir sekutu datang dari kapal, pesawat udara dan canon. Setiap  rakyat  yang masih berada di dalam Kota Surabaya harus hati-hati. Terlalu gegabah bila kau tidak meninggalkan kota. Kalau perlu berangkatlah sekarang, biar aku antar”
“Emak sudah berangkat mengungsi, Mas !. Tadi pagi bersama ibu ibu tetangga”
“Kenapa kamu nggak ikut sekalian?”
“Aku berjanji sama emak nanti aku akan menyusul menungsi”
“Lantas, gimana kamu bisa ketemu emakmu nanti ?”
“Emak mengungsi tidak jauh dari sini, emak kerumah bude di Wonokromo”
Matahari telah mulai merapat di pelabuhan cakrawala barat, hari telah sore. Semilir angin kemarau bertambah kencang, Suara Bung Tomo semakin terdengar menggelora terbawa angin ke tiap penjuru kota, bahkan hingga ke Pulau Madura, Sidoarjo dan Gresik. Pohon pohon yang merindangi jalan jalan yang melintang di Surabaya terbujur dingin. Seakan akan tahu bahwa sebentar lagi, harga sebuah nyawa sama sekali tiada artinya. Namun sudah menjadi wasiat alam semesta bahwa setiap kemerdekaan suatu bangsa yang direnggut dari nafsu penjajah, harus ditebus dengan apapun yang kita miliki.
Nuraeni tidak beranjak dari rumahnya, dia tetap bersikeras gabung dengan teman temanya. Sutantopun hanya bisa mengangkat ke dua bahunya. Namun dalam hatinya terbesit kekhawatiran yang mendalam tentang samudra pesonanya. Dia telah terlanjur melontarkan sebuah janji akan menikahi Nuraeni segera setelah Surabaya menjadi aman.
Sebuah rumah mungil dan sederhana dia janjikan untuk ditempati mereka berdua dan anak anak yang mungil manis manja. Sebuah rumah yang berhalaman kebun bunga dan berpagar kembang sepatu.
Sekutu mulai menyemai bom layaknya pak tani menyemai padi di sawah yang basah. Setiap jengkal tanah Surabaya mendapat jatah asap mesiu. Bahu membahu pemuda Surabaya menundukan satu demi satu tank dan meriam The Fighting Cock yang menggila. Sutanto tetap saja maju menerjang bersama ribuan pemuda berani mati dari
Surabaya untuk menebas Gurkha dan ANFEI serta NICA. Sementara Nuraeni di Gubeng berlarian kesana sini memungut pejuang yang terluka dan diberi obat ala kadarnya. Sesekali diapun bertemu dengan Gurkha dan tentara sekutu lainnya, dia hanya mampu berlari menjauh bersama sama anggota PMI lainnya.
Nuraeni dan Laskar PMI bermarkas di Gedung Handayani dekat Stasiun Gubeng.Di tempat itulah pejuang yang terluka diobati dan dirawat sementara. Namun entah karena hati yang kalap berselimut dendam yang membara dari tentara sekutu, Gedung Handayani beserta penghuninyapun menjadi sasaran pelampiasan mereka. Berkali kali tembakan meriam dari Sherman melahap gedung itu hingga rata dan tak lagi terdengar rintihan penghuninya yang terluka. Nuraeni besama sejuta sayap malaikat kini terbang menembus batas langit untuk bersemayam di negeri yang tidak ada lagi rasa dengki, mengumbar amarah. Sesekali melalui jendela langit diapun memperhatikan pria pujaan hatinya yang sedang berjuang menegakan keadilan.
Kabar hancurnya Markas PMI kini terdengar di telinga Sutanto. Saat saat yang paling dikhawatirkan kini dating juga. Rasa tidak percaya kini menyelimuti hatinya.
Cakrawala di depan matanya kini telah terbenam dalam baying hitam. Hingga kini lunglailah tubuhnya di depan Markas PMI Gubeng yang rata dengan tanah. Hingga akhirnya sebuah peluru dari tentara sekutu menembus dadanya. Gelaplah semua yang ada di sekitarnya, hanya terlihat Nuraeni menyodorkan kedua tangannya untuk menyambut buah hatinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar