Kamis, 15 November 2012

Negeri Bunga




Kala sang dewa membasuh wajahnya dari air  sejuk pancuran  sorga,
mengalirlah air kehidupan ,  sebening embun 
yang menepikan birama tanah  retak,
dari cengkeraman kemarau panjang.
Wajah sang dewapun kini menjadi cermin dari sekumpulan,
bunga bunga yang memegari halaman rumah ...
yang berjejer dari Andalas, Borneo hinggga Tanah Papua.

Saat itu teduh telah memenuhi langit biru,
meski “iri dan dengki”  dari Negeri Sinderella lama mengintip
dan mengokohkan jerat di Samudra Hindia, agar karang- karang kokoh
menjadi rapuh, serapuh kedurjanaan mereka.
Kawanan burung camar menjadi saksi
merapatnya  kapal kapal VOC yang bengis dan serakah,
menebas bunga bunga sorga dan memasangkan pada
sisi lambung kapal kapal mereka yang  pongah
bunga sorgapun terpingit dalam halimun kelam

Lengan lengan rapuh,  tak kuasa menyeka
air mata Ibu Pertiwi dan saat itu bertebaran memenuhi
sawah ladang  yang terinjak sepatu laras tuan tuan tanah,
yang menyeringai dari buritan kapal.
Namun busur waktu telah melontarkan detik demi detik
hingga  lengan lengan itupun perlahan menjadi tangkas
untuk memikul senapan dan menggenggam bara.
Untuk menghardik mereka semua kembali ke Istana Sinderalla.

Jangan kau remehkan  tumbuhnya bunga,
meski kelopaknya telah kau sayat di Tanah  Digul, Ende dan Bengkulu
meski lengan lengan ini hanya mampu menerkam sebungkus nasi
dan adonan daun pepaya dan ketela. Langitpun menyodorkan catatanya,
telah terbukti lengan lengan itu  mampu menelikung sayap sayap Fighting Cock
dan Mallaby  yang terpincing matanya. Dan kala Palagan Ambarawa serta
Medan Area telah menjadi bukti meradangnya lengan lengan
yang lama terpingit ketidakadilan.

Setiap sari bunga sorga menjadi beterbangan memenuhi
ruang di bawah langit,
kala bunga Sakura dari Timur berhasrat meminang
2
bunga bunga dalam karangan berduri dan mengiris luka,
bunga bunga sorga yang  lemah  santun menjadi saling pandang
Betapa kekarnya bunga sakura, yang mengusung hasrat  bersemi
dalam pijakan yang dalam, di sawah ladang Asia Pasifik

Pernahkah kau dengar cerita dari sekumpulan  awan ?....
yang tergelar karena bunga yang  “murah senyum”
lantas menebas leher “bunga merah”, yang menjinjing
tempayan berisi air mata.
 membuat angin padang tak ramah melaju
menerbangkan debu debu
pada jalan yang panjang dan berkabut

Kita tak mampu lagi menampung air mata
yang tercecer di aspal jalan dan halaman kantor negeri
lantaran bunga bunga itu telah melonggarkan teriakanya
dan menyumbatkan nadi jantungnya, hingga berisi
makian, cercaan ....tak ada lagi beranda hati
yang ditumbuhi ranum mentimun, air mawar, segarnya air Danau Toba
untuk sekedar  mandi anak cucu kita di pancuran sorga.

Bunga bunga kini menghitam putiknya,
Melepuhkan juga kulit kulitnya
lantaran terhempas asap kereta reformasi
yang melaju terbata di rel depan rumah bambu mereka.
Lantas mengapa hanya di halaman  rumah bambu,
yang ditumbuhi bunga bangkai,hingga pelangi menjadi
pudar warnanya.

Kita tak perlu lagi saling beradu sorot mata
bila angin segar dari ketiak langit
masih mampu kita jaring untuk menyemai padi, palawija
dan anak  cucu kita yang bersekolah
di gedungin gedung yang retak dindingnya.

Kita atur langkah kita dan hembuskan nafas yang bersih
Agar bunga bunga sorga masih bisa tumbuh
Memagari punggawa punggawa yang membengkak perutnya
berisi ketamakan dan nafas busuk
meski halaman rumahnya telah terpancang
rimbunya tanda jasa dan kemegahan.  (Semarang, 27 Oktober 2011).

Merajut Pagi di Bumi Nusantara

Benang sutra kini sudah rapuh,
untuk  merenda pagi dalam kanvas
yang berukir mozaik  wajah wajah tunduk,
betapa tingginya bunga ilalang menggapai langit biru
di negeri berpagar kemarau panjang

Telah kering air kali sejuk membius
angin  benuapun lebih memilih melajukan prahara
sementara petinggi negeri
hanya duduk melamun dengan taring menjulur tajam
dan siap merobek wajah pagi yang santun,
sehalus sutra dan sesejuk
buih Danau Toba

Kita telah berada di beranda jaman
yang berisi dunia maya dan “solar flare”
mampukah kita menyobek kelambu dan tabir
yang mengungkungkan kita di kamar ketertinggalan
maka tiada guna lagi tangan menggapai liar
bila rajutan pagi tak membutuhkan lagi  (Semarang, 27 Oktober 2011).

Dalam Doa

Dalam doa kita tak sendiri.....
Sayap sayap malaikat telah merentang
yang berisi gambaran perjalanan panjang
menuju Istana Megah di ufuk timur

Dalam doa, tak  ada saksi lagi
mengeringnya air mata...untuk  membungkam
teriakan panjang di jalan jalan
pertikaian di gedung gedung terpandang
Tuhan, lindungilah negeri seribu bunga ini (Semarang, 27 Oktober 2011).

Indonesia Di Tengah Benang Waktu
Kala pagi halimun masih kentara, menghitami
hamparan sawah ladang, dan menenggelamkan
kuning permadani padi, dan hijau kecoklatan
palawija. Belalang belalang masih meneriaki makian
panjang, di tengah perut  mereka yang meradang
seakan menggenggam hasrat, untuk membelah
dinding perut mereka sendiri.....
di tengah mereka itulah Indonesiaku berdiri kokoh

Telah beberapa lama pagi itu, mereka
yang bertopi “caping” dan bercelana kumal
telah lalai membenahi  pagi, dengan sarapan nasi hangat
dan sajian teh manis.

Namun mereka malah bersikokoh untuk
menghempaskan pagi dan memaksa ilalang lemah
menelan ludah mereka mentah mentah
bukankah gubug bambu, yang berangin sejuk dan nyaman
adalah rumah tempat bersemayam ilalang
yang ada di  Ibu Pertiwi

Mengapa atap rumbai rumah- rumah ilalang sepanjang
“Bukit Barisan” dan “Pegunungan Kidul” yang tersambung dengan
“Waisor” dan “Timika” bersatu dalam seduhan
cincin api....lantas akan kau ubah
menjadi naga-naga bertaring merah, penghisap darah...
di atas “meja korban”  dalam tragedi kemanusian paling
pengap dan mengiris bulu kuduk.....

Saat  relung  waktu masih  melilit perjalanan panjang kita
hingga berada tepat  di depan kaki kita yang melipat,
ilalang itupun masih  menggapai kedua tanganya
lantaran  atmosfer  di atas “Negeri Krakatau”
telah berwajah garang, tanpa berdandan ramah (Semarang, 23 Oktober, 2011).

Meniti Awan- Awan Hitam

Kita rapikan awan- awan dalam rentang perjalanan kita
agar tidak berselingkuh dengan gelap dan hitam
jangan kita pasang gendang telinga
pada lidah lidah kelu,  yang berkerah putih
dan bersepatu “pantofel” dengan senyum “perlente”

Di tengah perhelatan sumbang
dari anak negeri...dengan kepalan tangan mengencang
tapi bersorot mata menghadap rumah berarsitek
negeri impian, mereka sempat bergumam
“biar saja sang abang becak menghangus diterkam
panasnya mentari...biar saja semua si miskin
terjerambab dalam kubangan lumpur menghitam”

Kita adalah anak negri, yang bermandi kuning
sinar sang mentari di hulu ”Sungai Kapuas, Mahakam dan Musi”
bertatap pada “Puncak Jaya Wijaya”
namun kita harus  tetap mentautkan benang sutra titian
menuju cakrawala yang ditengahnya berdiri
rumah sederhana namun kokoh
tempat bermain anak anak kita..

Jangan kita  surutkan apa yang kita miliki
hanya karena  awan hitam yang menutup kening kita
serta membuat kita terpagut pada asa yang samar  (Semarang, 23 Oktober, 2011).

Takan Pernah Usai

Bergeraklah dan terus bergerak
daun nyiur di tepi pantai,
agar angin kemarau,
mampu mengipasi bidadari
yang melepas dahaga
di tepi pantai, pada muara sungai sungai
bening beraroma khatulistiwa

Teruslah melejit seperti anak panah
pergantian arah angin muson
karena dari sinilah, kita menjadi “Negri Santun”
6
yang tak kan pernah mengusung teriakan panjang
yang tak pernah membusung dada kita

kita takan pernah berhenti......
menghembuskan iklim sejuk dan bij-i biji kering
agar bersemi, di sawah ladang,
tanpa prahara dan suara burung sumbang.  (Semarang, 23 Oktober, 2011).

Sebuah Pesan untuk Saudaraku
Sudah berabad lamanya, nenek moyang kita....
mengikat  pagi,siang dan senja hari
dengan  jagung, ketela rambat dan bayam
tak ada duri tajam di sawah ladang mereka....

mereka siram dengan air Anugerah dari
Yang Kuasa.
Tiada gemercik air kali yang membawa aroma
kemunafikan  dan durjana,  sawah merekapun ditanami
“tanaman kebajikan” hingga menumbuhkan semai
kebijakan.
Tiada pernah ada makar, anarkis  dan mesiu


Mari kita menambatkan perahu di  pantai mereka
meski  akan kita temui jalan dari tanah liat yang
licin, lembab namun bertepi wangi bunga
berpagar bambu dengan anyaman yang rapi dan kokoh
dengan “sang  gula kelapa” melekat kuat di pilar
kayu pintu depan rumah gubug mereka.

Kita sapa punggawa, hulubalang serta para menteri
Yang berjejer rapi di cakrawala mereka
Yang berangin sepoi, bukan angin yang berdebu,
yang menderu  memburu, halaman depan gedung loji
beratap kayu cendana dan bertembok tulang belulang
dari belukar ,  yang tumbuh di tengah padang penuh batu
bergerigi.

Kita sisipkan satu halaman buku catatan kita
Agar terbaca bintang, halimun dan tepi langit
Sehingga mereka berhasrat datang ke Bumi Nyiur di Pantai
Dengan mengemudikan angin fajar.

Mari kita benamkan, segala bara, hempasan prahara
Yang datang dari sudut langit, yang kau penuhi dengan
iri  dengki dendam dan hasut
tiadakah pagi, tempat  memainkan buluh kembang tebu
untuk dijadikan seruling.

Atau kita hanya diam....
Sepi.  Semarang, 29 Oktober 2011.

Prosa untuk Negeriku

Bila kita untai sepotong sajak dari guratan alam
yang terhampar  pada kubangan antara dua benua,
melajulah Pinisi, yang membuang sorot mata jauh
ke Selat Malaka,
yang berombak sejuk, penuh  “susul menyusul”
lagu rakyat tentang pantai, lembah  dan gunung.

Meski ‘Wedus Gembel” pernah menyalak keras,
Namun dia tetap mengokohkan
Tebing tebing yang memagari sawah ladang
Agar tetap betumbuh hijauan,  yang tak pernah
melangkah surut ,  meski prosa ini
telah kehilangan birama tentang “untaian kasih”

Dari kumpulan kembang sepatu ,beluntas dan kayu manis
Mereka saling melilitkan akarnya agar kokoh berjejer
sepanjang relung waktu...memenuhi megahnya
hingga pujanggapun tak lagi mampu
menyusun prosa  (Semarang, 29 Oktober 2011)

Aku tak Ingin Pulang

Aku belum mampu meninggalkan jejak kaki
Agar dipunguti anak cucu
Yang memburu belalang liar...
dan tidur di ilalang yang mengering

Baru saja udara yang pengap
Berselingkuh dengan rongga dadaku,
Hingga penat menyelinap seluruh sendiku
Karena aku berusaha ingin tahu, tentang teriakan
panjang para anak bangsa yang menyelipkan
segudang geram,  mampu merobohkan
Anak Krakatau dan Rinjani

Aku tak ingin pulang
Sebelum bunga bunga  kering di tengah jalan
yang ditebar dengan sebelah mata
menjadi bersemi lagi
harum mewangi...menghiasi puncak
Jaya Wijaya.  (Semarang, 29 Oktober 2011)

Dendam Rindu

Kekasih yang menyimpan rindu,
adalah dia yang memegang erat semua
yang singgah di bilik jantung

Sang putri yang menawan, bersenyum ceria yang
disemai “Caldera Gunung Bromo”,
menopangkan hidupnya dengan bergayut
pada sejarah yang ditoreh tinta emas
pejaka yang merindu
yang selalu berikrar menyatukan semua
kaldera,kawah belerang, fumarol dan
hiasan alam
yang bersama dipikaji dengan dendam rindu

Luruhkan dahulu dendam rindu
Agar mengatur nafas
Dan beristirahat di Bumi Nusantara   (Semarang, 29 Oktober 2011)

Pejuang Terakhir

Lelaki  tua itu telah redup sorot matanya,
mengais  angin sejuk,  menyisir  duka
di pinggiran jalan protokol beraspal kepongahan,
di sampinya meluruskan kaki,  berbaju compang camping
milik anak jaman                                
seorang pengemis muda…
“aku dulu mampu membungkam  howitzer Anjing NICA”
seru laki laki tua itu, seraya menunggu kekaguman
pengemis muda mencibirkan bibir, membeku lidahnya

dengan mendengus nafas
pengemis muda menikamkan sebuah seloroh
“mengapa tak kau kenakan kerah baju jendral”
batu batuk kecil dan dalam menjawabnya
menyelipan kata, “usai sudah yang aku mampu…..
dadaku tak cukup bidang untuk menggayutkan
bintang jasa”

di pinggir jalan berumbai langit biru
adalah milik lelaki tua itu…yang mengungkung hatinya
tidak segentar membungkam “Water Mantel”
di genggaman “Gurkha”  yang perkasa
semakin perlahan dia menyusuri jalan itu
kini sepi, dalam keranda tak berkemas
merah hati namun berkibar di hatinya

dalam keranda dia membawa tanah Sang Ibu Pertiwi
untuk di semai di halaman langit  (Semarang, 3 November 2011).

Sebuah Epos Yang Hilang

Tidakah kau pernah tahu ?
mereka datang dari jauh hanya membawa bara
untuk  menghanguskan setiap lekuk tubuh
Sang Ibu Pertiwi, aku  menggenggam pilu
Aku  mengencangkan urat nadi
tidakah kau tahu  pula,  anak- anaku?
Kita hanya memiliki
rembulan dan matahari yang saling berkejaran
untuk menguningkan padi dan tanaman jagung
agar perut kita tak menghempaskan deru

Namun mengapa mereka
menjaring angin kembara dan mengaitkan
pada sisi “negeri santun berpantai nyiur”
kita tak akan melipatkan lengan
meski kita hanya  bertelanjang dada
namun degup jantung mampu merobohkan tebing
yang mereka kokohkan
sepanjang Bukit Barisan hingga Cendrawasih

Anaku,
bila kokok ayam jantan di tebing ufuk timur
pagi berhias mentari, burung berpantun ria
dengan bulu warna warni
berbicaralah pada hari hari yang membisu
tentang lengan lenganku yang menghilang
kala memburu mentarimu,  agar tetap terjaga  (Semarang, 4  November 2011).

Manifesto Untuk Hantu Berkerah Putih

Altar  yang kau lebarkan hingga menepi di batas Laut Kidul, gigimu menyeringai, nampaklah tangan kecil menggelepar meradang nyawa namun menepis nafas mereka sendiri. Sekawanan hantu terus saja membaca mantera, dengan jas hitam berkerah putih, hingga Nampak langit berpoles warna kebiruan namun masih berenda awan hitam           
Pohon perdupun menyimak, meski belukar mencibir, rumput tetap saja mengokohkan sepatu  laras untuk menunjam bumi, bila sang Pemeran Jaman terpelanting dalam jurang,
Namun berjuta raut, mempersembahkan protes terhadap “mantra sang hantu”
Yang hendak mengoyakan langit.

Dan  mengusung awan hitam, bertepi racun, onak bulu bambu.
Untuk mengusir nyamuk nyamuk bertulang iga rapuh di bawah gubug bambu
Jangan kau hadapkan punggungmu, sang hantu !. Bila liuk puting beliung menghimpitmu,
Hingga melemparnu ke Puncak Tanguruhua atau Pinistubo,

Agar kau lebih akrab dengan tabir yang dulu kau pintal setebal belacu,
Kau boleh mengajak semua yang ada di kantong bajumu
Untuk menjadi teman kala kau tersudut di sudut tragedi

Apakah belum pernah kau dengar lagi,
Saat ibu ibu di desa membawa anaknya untuk melihat dunia
Mereka bersekolah di bangunan kardus, bersandar pada
keramahan angin gunung, untuk menyisir daun daun sayur yang tumbuh
Di sepanjang  kebun penuh harap, sedangkan atap sekolah mereka
selalu bergoyang ditiup angin ketidaktahuan

Atau kau lebih memilih
Bernyanyi simphoni riuh rendah yang mampu merobohkan warna pelangi
Kala hitam tidak sepantasnya bertaut dengan jingga,
Atau biar saja “wedus gembel”  menjadi merah membara
Menyodorkan sudut jantung yang berkawan sembilu
Kemudian menusuk tiap yang kita miliki    (Semarang, 4  November 2011).

Dari Majapahit Hingga Reformasi

Setiap pantai berbuih lembut.
Dari hamparan Laut Utara hingga Selatan, bersemilir angin
penyejuk sepasang mata kita,
petir dan halilintarpun memasang bantal peraduanya,
mentaripun menjaga tidur pulas mereka,
diapun terus saja mengipaskan kuning rambutnya
agar menusuk sanubari kita masing masing
tentang “Negeri Tautan Keramahan Alam”

Negri ini,
telah menopang kita dengan bahunya yang lebar
senyum gadis desa,  mandi di sungai bening
mengalir sepajang lembah hijau.
Tak ada teriakan panjang  memantul
Dari dinding-dindang kedurjanaan.

Aku berusaha mengintipnya dari sela sela
pagar  tanaman tanaman beluntas, beribu membiusku
tatkala semua anak cucu  terbawa angin katulistiwa
telah terdampar pada lembah “senyum menawan”
kita bersemayam, dalam nafas yang lentur

Sang punggawa kraton Majapahit  beramai- ramai,
Menawan hati “Sang Mahapatih Gajah Mada”
menarikan gemulai hasrat, lembut tari kemanusiaan
Mengusung sebuah kabar, datang dari mega Mahameru”
Untuk menyunting “Negeri Katulistiwa”
Borneo bermandi wangi bunga, pada jambangan bunga
Telaga Bukit Barisan, Burung Cendrawasih menatapkan
sorot mata sejuik, mampu melipat halimun pagi

Titian pelangi senja, telah mengokohkan sebelah kakinya
di Gunung Jaya Wijaya….
Namun duka merayap di tiap tulang iganya
Ketiga pelangi merambah “Negeri Reformasi”
“warna merah bara menyalak memenuhi tiap pagi,
biru menyendukan kemanusiaan yang tertsedu.
Warna putih berselingkuh dengan awan gela,

Di tepi wara jingga, yang memudar
tentang “cinta kasih” antara ilalang Negeri Reformasi
sang dara penjaga awan
telah basah pipinya tertusuk asap hitam
yang membumbung dari gedung-gedung menteri
yang terbakar angin prahara

semua berteriak nyaring dalam deru
di atas jalan aspal yang mengelupas
kala anak kota tawur melemparlan semua kebohongan
yang mengalir bersama air sungai yang hitam
dan bermuara pada perut buncit punggawa kraton

aku berlari mencari pagar yang kokoh
tak ada lagi muslihat atau pertikaian
tapi pagar itupun menghardiku kuat kuat
sudah tak  ada lagi pohon tempat nyanyi kenari
meninabobokan anaknya yang mencicit
terbelit uang SPP,

aku menjerit hingga terjagalah dari tidur siang
sang penjual bakso, mi ayam, abang becak,
tukang bangunan, kenet mikrolet yang mengakar
pada permadani hijau Negeri Reformasi
dalam kereta yang tidk pernah singgah
di stasiun berhalaman beluntas*** (Semarang, 6 Nopember 2011)

Senyum Malu Bidadari

Senyum malu dari Anggrek Bulan, tanaman bidadari
Menyeruak memenuhi halaman  Prambanan dan Borobudur
Lantas Serambi Mekah di Plataran Malaka,
telah tersapu bersih dari sampah sampah “tak berarti”
saat lesung pipi bidadari menemani petani desa,
menata benih padi bersiram air hujan ramah
Menggurati kanvas kehidupan kita semua

Senyum kembali menghampar pada kungkungan langit
Kala birunya telah ditelan hidup- hidup “Bhatara Kala”
Lambing kebimbangan dan kemusykilan.
Namun senyum tak berlesung pipit
lantaran telah usang pantun dan gurindam
serta sajak sajak tentang nasionalisme

Jangan kau tertunduk galau dan risau…bidadariku
Kembalilah dengan senyum malumu…beruntai
tembang manis negri berpagar hujan
Mari kita kembali lagi bertanam patriotisme
hingga anak anak kita kokoh menggenggam
gula gula manis, mengejar nurung pipit hingga
ke tengah sawah, bermandikan air bening kali desa***(Semarang, 6 Nopember 2011)

Fatamorgana

Kemarin “emak” telah memberiku
Sepotong dongeng, tentang aku dan bagaimana
aku memungut nafas, di tengah liukan “jalan tak berujung”
Emak menerpakan aku sebuah pandang mata
yang jauh menebariku “semai kemanusiaan”
hingga ke tengah hati ini
Anaku;
Jangan kau iri dan dengki
Jangan kau menyelipkan hidup
dari “uang Negara”, yang nantinya
melumatkan sendi tulangmu
Jangan kau tertawa di padang ilalang
Padahal kelopak bunganya telah tegak
menghadap langit.

Anaku,
bersatulah dalam ikatan jalan panjang
menuju bangunan kokoh di balik “dongeng emak”
tanpa fatamorgana, meski kabut masih melilit
aku menggeliat *** (Semarang, 6 Nopember 2011)

Ilalang Ilalang Negeri

 Bunga ilalang ilalang telah kusam bunganya
Tiada angin padang yang menjenguknya…
kian sepi dan meluruh tulang daunya
kala sepatu laras merebahkan

Ilalang, menembus pagi berpagar Flamboyan
Tapi tak pernah menemui harum selaksa kembang
Ilalang kembali jadi lakon
Dalam panggung lenong betawi
Hingga tiada pagar yang mampu menepis**(Semarang, 6 Nopember 2011)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar