Jumat, 16 November 2012

M e r a p i



Bila senja, menjelang malam
Engkau terlebih dahulu berselimut kain putih
Membalut dagu dan wajahmu….
Namun aku tetap memincingkan mata,
Dan sekali mengerling
Untuk menautkan pandang mata berbatas
Liuk tubuhmu yang biru
Bagai “Sang Kumbokarno” menanti…
perintah “Sang Rahwana”…
untuk menerjang siapa saja
yang pantas menerima, dengan dengus nafas
yang tajam bagai …
pagutan ular berbisa

Namun tetap saja akan kujinjing
Keranjang berisi wangi bunga
Untuk kutebarkan di atas puncakmu
Engkaupun akan berdandan lebih seronok
Bila telah kau lepaskan lilitan..
Pada kerongkonganmu yang kering
Lantaran tiada lagi tetes hujan…..
Membiramakan dadamu yang longgar
Karena gerigi roda jaman telah…
mengkhiatimu.,,,

Aku akan kembali, Merapiku…..
Engkaulah dara jelita
Meski telah kau pincingkan kelopak matamu
Hingga terlihat merah sorot matamu…
Redupkanlah, dara jelitaku…
Agar angina pagi mampu
Menelisik dan membisikan semua lekuk
tubuhmu ..ke seantero penjuru langit. (Semarang, 6 Nopember 2010)


KEMANA SENYUM MALUMU

Bagai gadis remaja di halte bis
Kala menunggu teman, untuk menuai janji
Penuh mesra,  berjalan sepanjang  pematang
Yang melintang di tengah permadani kuning kehijauan

Senyum manja adalah kala kau…
Kepakan sayapmu…mengundang langit tak
bergurat  taring dan kuku kuku tajam
kala air tawar pelepas dahaga
kau suguhkan pada biji biji ilalang
yang terbawa angin menguliti tubuhmu

Bila engkau tersenyum
Ranum buah pisang, papaya dan jambu
Tiada lagi berseloroh dengan pupur …
Dengan nafas tersengal
Meski sempat mereka menyodorkan kedua tanganya

Agar engkau menggetarkan bibit
Menjadi senyuman di akhir tahun ini…(Semarang, 6 Nopember 2010)

JANGAN ADA LAGI PILU HATI

Saat kau buka jendela rumahmu
Batuk batuk kecilmu
Sempat terdengar oleh kawanan kenari
Dan bertanya…
Mengapa kau lipat pagiku
Padahal belum usai aku berjemur
Di sepenggalah matahari
Kenariku terbanglah memenuhi langut biru…(Semarang, 6 Nopember 2010)


AKU DAN KAU

Jadilah satu…
Agar kita mampu
Bermain di kaki langit
Agar semua bibir
Tidak terkunci rapat
Telah lupakah kau
Pada seutas tali
Yang kita mainkan
Engkau dan aku
Saling menarik ujung masing masing

Tetapi dengan
canda…tetap kau
sodorkan
Bukan  lagi
Dengan wajah
Saling bersungut sungut
Kau buka lebar lebar
Jemarimu yang memercikan
Air bunga
Bagai air mandi pengantin baru.
Kau tak pernah kulupakan     …(Semarang, 6 Nopember 2010)

MERBABU

Saudara kembar menjulang
Bagai payudara sang bidadari
Merbabu hanya diam termenung
Di depan serambi langit
Sedangkan kau
Menebar dahaga
Pada kawanan ilalang

Bukankah lebih baik
Engkau bermain sepanjang hari
Dengan Merbabu
Sang dara jelita
Yang tertunduk malu

(Semarang, 6 Nopember 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar