Jumat, 09 November 2012

Akan Kemanakah Negeri Kita

Semua masyarakat di seantero tanah air telah mengetahui meskipun dari sudut pandang yang paling mendasar, bahwa sebuah ketentuan hukum telah eksis di tengah kita untuk menyertakan bukti bukti yang diakui hukum untuk setiap tindakan seseorang/institusi yang merugikan kita/institusi tertentu, yang dilakukan secara terus menerus. Bukti bukti itu kita lampirkan pada upaya kita dalam mendapatkan penyelesaian secara hukum.

Namun apa yang dilakukan oleh Dahlan Iskan yang menahkodai semua BUMN di negara kita yang terhitung badan usaha yang strategis, vital, akuntabel, yang pada Hari Senin 5 Nop 2012 menghadap Badan Kehormatan DPR untuk memberi penjelasan adanya  2 oknum Anggota DPR yang kerap memalak BUMN yang merupakan badan usaha yang dibimbingnya.

Berbagai pihakpun tercengang dengan tindakan 2 atau lebih oknum pemalak tersebut, apalagi agi masyarakat luas yang terus dijejali dengan imajinasi kontroversi, antara kredibilitas, profesionalisasi, titel akademis untuk para petinggi, yang meyakinkan mampu membawa negara ini menuju kemajuan yang signifikan bersama dengan sisi lainya yang justru menyuramkan nama besar mereka. Isu tentang pemalakan BUMN tersebut, bersamaan dengan isu santer tentang bukti baru Nazarudin yang diserahkan ke KPK, perihal isu gratifikasi yang diberikan PT Adi Karya kepada Anas Urbaningrum dalam bentuk sebuah mobil Toyota Harrier seharga empat ratus tujuh puluh Mliyar Rupiah. Perihal ini Nazarudin siap dikonfrontir dengan Anas karena telah memiliki cukup bukti yang kuat. 

Pertanyaan yang selalu terselip di sanubari kita, apakah praktek penjualan harga nasionalisme dan moralitas yang murah ini terus berlangsung di setiap sendi kehidupan kita, setiap lini birokrasi atau mungkin di setiap lapisan masyarakat. Tanpa ada secercahpun peluang untuk memulai dalam upaya penegakan bangsa bermartabat.  Ataukah ini hanya sebuah proses menuju sistim yang bakal diakui bersama, layaknya sebuah evolusi yang bergerak perlahan meniti perjalanan waktu, hingga terbentuklah fenotip individu yang tetap eksis hingga kini. 

·         Sejenak Menengok ke Belakang

Di era tahun delapan puluhan, di masa jaya jayanya orde baru. Presiden Singapura saat itu Lee Kwan Yu pernah menyampaikan curhatnya kepada Presiden Soeharto, yang isinya beliau begitu terkesima dengan ideologi yang mampu berakar di setiap sanubari Rakyat Indonesia, sehingga bangsa yang besar ini mampu mengayuhkan langkah berkehidupan berbangsa dan bernegara yang bersatu padu. Kalaupun ada gangguan atau ancaman berbangsa dan bernegara, hanyalah sebuah riak kecil yang sama sekali tidak mengganggu stabilitas keamanan.

Meski kita tahu bersama bahwa, Soeharto menyodorkan keamanan dan ketertiban negara dengan tangan besi, yang justru banyak menimbulkan pelanggaran HAM yang banyak diecam oleh banyak pihak. Namun kita juga tahu bahwa “power people” masyarakat kita begitu hebatnya, yang terbukti mampu mengkandaskan komunisme di Indonesia atau bahkan mampu menggulingkan Orde Lama dan Orde Baru itu sendiri. Bukti sejarah tersebut bisa kita gunakan untuk menyimpulkan, bahwa sekuat apapun militer atau otokrasi di tanah air kita tak akan mampu melawan sebuah “power people”. Bisa saja apabila saat itu misi pemerinatahan Soeharto tidak sejalan dengan akar rumput, tentunya dia tidak mampu bertahan hingga  32 tahun. Inilah yang bisa kita jadikan sumber inspirasi demi menyingkap tabir suram yang terus menggayuti armosfer negeri kita.

Meski sebagian besar dana pembangunan didapat dari utang luar negeri, namun skala prioritas pemerintahanya dalam menyediakan kebutuhan chajat hidup masyarakat kita tepat pada sasaranya, mulai dari penyediaan sekolah, puskesmas, pangan, koperasi, keluarga berencana. Saat itu mulai dari konteks masyarakat kita yang menggelepar lantaran sulitnya mendapatkan sandang, pangan, pendidikan, kesehatan bersambung hingga tercukupinya kebutuhan itu semua, meskipun di sana sini masih banyak kita lihat kepongahanya. Apabila kita masih prihatin dengan kepongahan itu semua, maka kita mengawali dari aspek pennjernihan mentalitas oknum petinggi kita yang setiap hari menjadi tontonan masyarakat kecil.
·         Visi ke Depan

Sehingga praktek pemberangusan hal hal yang sempat melukai hati masyarakat, dengan sigap mampu kita tepis. Bukan dengan langkah yang setengah setengah atau bahkan manuver kebijakan pemerintahan yang hanya sekedar mengusung sebuah pencitraan yang menjadi bahan tertawaan berbagai publik. Langkah yang inkonsisten selalu ditepis agar tidak menimbulkan ketidakpercayaan publik, seperti pemberian grasi kepada terpidana mati Meirika Franola atau Ola, yang menggegerkan publik. Karena sudah sejak lama pemerintahan SBY bertekad tanpa memberi grasi kepada mafia narkoba. 

Apabila kita kembalikan pada ranah efek destruktif narkoba yang begitu hebat terhadap masyarakat, tentunya kita harus bersikukuh terhadap hukuman mati gembong narkoba ini, meski delapan puluh persen negara di dunia telah menentang hukuman mati. Lantaran hal ini telah menambah carut marutnya kondisi mental masyarakat kita yang gampang tersentuh oleh kebijakan otoritas yang sepihak.

Langkah ke depan yang begitu emergency terus saja menjadi kabur bahkan mengambang, institusi dan birokrasi yang kental berhadapan langsung dengan masyarakat jelaslah harus bersinergi dominan guna merehabilitir ketidakpercayaan masyarakat, tidak seperti yang kita lihat di berbagai media tentang kesewenang wenangan aparat negara terhadap masyarakat kecil***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar