Rabu, 21 November 2012

Sketsa Negeri Hujan



Ketika sang waktu telah menyelinap di antara hamparan Antartika hingga Gurun Sahara, kemudian meletakan sayapnya di Archipelago, yang kelihatan dari angkasa kini terbuai  bermandi buih lautan. Lantas kawanan sang bidadari mengipasinya dengan angin pasat, pertanda nafas sang waktupun telah menyesak di dada. Maka segenap penghuni kahyangan menjadi tersenyum ceria, betapa syahdu dan indahnya negeri  itu, demikian guman hati para dewa. Segera dari langitpun bertebaran bunga warna-warni yang semerbak harum mewangi.

Kini dihamparan dua samudra, telah melambai sejuta nyiur yang berjejer di pantai negeri  itu. Sembari memberi kabar kepada bioma bioma nun jauh disana, agar  mau berguyur mandi air hujan yang terkucur dari mata air Cupu Manik Astagina yang digenggam tangan Sang Hyang Pramesthi Bathara Guru,  pemimpin para dewa di Kahyanga Suralaya. Sambil bermesraan menonton sendratari Ramayana di halaman Candi Prambanan yang mencakar langit, dengan puja dan puji untuk meminta kemurahan sang dewa. Konon menurut legenda, para dewa di Kahyangan Suralaya menjadi berselimut derai tawa. Pertanda pralaya hanya mampu mengintip dari balik awan. Entah dalam perjalanan  sang waktu natinya.

Sang Pralayapun lebih senang bersemayam di Mahameru, simbol “derajat pangkat” negeri yang sejuk dengan terpaan hujan sepanjang tahun.

“Hai, sang pralaya, kuatkan peganganmu di puncak Mahameru, jangan dulu engkau terlena dengan tarian para bidadari yang sedang bercengkerama di tepi telaga.
Biarkan saja semua yang hidup di negri yang tak pernah lekang itu, mampu tersenyum ceria. Biarkan dahulu bocah desa bertiup seruling bambu di atas kerbau.
Biarkan dulu permadaniku berwarna kuning di hamparan sawah yang sejuk da mengalir air yang bening sepanjang tahun “ Demikian titah Sang Hyang Wenang.

“Akupun akan turun ke tengah mereka bersama denga luapan magma, tsunami, gempa dan badai petir, bila aku sudah merasakan gerah di sini. Lantaran banyak diantara manusia yang saling melempar ego, saling merugikan lainya. Bila pula mereka sudah tidak mau lagi tawajuh  marang sesembahan.

Sang Hyang Wenangpun kembali ke kahyangan Awang-Awang Kumitir dengan senyuman tersungging di wajahnya yang putih bersih, tanpa suatu patah katapun dilontarkan. Sang pralaya segera mengencangkan sayapnya yang bertaut erat di puncak Mahameru. Sesekali diapun bergumam dalam hatinya. “Hai manusia di negeri hujan, akupun akan menelanmu bila memang saatnya aku menjalankan tugas. Bila pula para dewa di Suralaya sudah merasa gerah dengan budi candolo yang menjadi panutan kalian semua. Tiadakah diantara engkau yang lebih memberi manfaat pada lainnya ?, agar aku mampu memejamkan mataku di Mahameru ini.”

Angin Pasat, angin Kumbang, angin Gending  ataupun angin Bahorok  yang lahir dari kipas para bidadari terus saja setia menyertai kehidupan di sela jajaran nyiur. Semai padi dan palawija saling bertautan dengan panen tanaman itu. Demikian seterusnya dari masa ke masa. Hujanpun masih setia mungusung kehidupan mereka, tidak ketinggalan pula metamorfosis hidup dan suratan takdir diantara penghuni negeri, tiada pernah terhalang oleh nafsu durjana mereka sendiri. Alam para dewapun menjadi damai tentram.Dalam pakeliran agung semua titah sawantah tiada satupun yang bergeming. Tiada busur panah yang meregang, tiada satupun pedang yang tak bersarung, tiada satupun tombak yang njati ngarang. Semua berbudi santun yang kondang kawentar hingga ke bioma gurun dan padang rumput serta nunjauh di sana.

Sesaat tangan Sang Hyang Pramesthi Bathara Guru yang menjinjing  pusaka Trisula dan Jaludara lambang kekuasaan yang terlimpahkan kepada titah sawantah bergetar hebat,      
Singasana Marcu Pundhamanik tempat pemimpin dewa tersebut memimpin alam raya terasa memanas. Hal ini telah membuat gusar para dewa, sehingga Bathara Bromo, Endro, Kamajaya, Yamadipati, Surya, Indra, Bayu bergegas menghadap pemimpin mereka Sang Hyang Pramesthi Bathara Guru  untuk meneliti bencana besar yang   melanda mercopodo.

Lantaran hinggapnya penasaran yang mengganjal di dada Bathara Guru, maka diapun segera membuka langit untuk mengamati sumber penyebab kegoncangan kahyangan. Sang Bathara Guru menjadi bersungut sungut wajahnya, yang kini terlihat memucat. Dilihatnya  Bathari Durga dan Bathara Kala dari Kahyangan Gondomayit telah melepas ikatan Sang Pralaya, untuk menyebarkan angkara murka di negeri hujan itu.

”Bathari Durga dan Kala ! dan kau Pralaya, bukankah bukan tempatmu bermukim di negeri hujan ini. Dan mengapa kalian bertiga menyebar angkara di negri hujan tempat mandi bidadariku ?” ujar Sang Bathara Guru.

”Hai kau Guru pemimpinku. Kau lihat kini negeri hujan berisi hanya petir, akibat panasnya mercopodo dibakar oleh hawa nafsu para  titah sawantahnya, yang saling melempar kebencian satu dengan lainnya. Tiada lagi tarian santun atau tegur sapa yang lembut, semuanya kini berhamburan ke jalan dengan menghunus pedang. Pemimpin mereka hanya mampu mengumbar kepuasan dia sendiri”

”Tapi hentikan dulu ulah kalian semua”
”Aku bertiga sudah tidak mampu lagi menundanya, sang pralayapun telah lepas ikatanya”
”Bukankah para pemimpin mereka telah menerima petuah  Kakanda Bathara Ismoyo ?”
”Kakanda Ismoyo sudah tidak digubris lagi, lantaran mereka telah menjadi titah yang angkuh”
”Tetap aku akan ke Awang Awang Kumitir menghadap Romo Syang Hyang Wenang”
”Percuma saja, kakaku !, Karena Sang Hyangpun takan mampu menolongnya. Karena ini telah menjadi suratan takdir Gusti Ingkang Makaryo Jagad, maka hanya dialah yang mampu memutuskan ”

Hening suasana mercopodo saat itu, lantaran untuk sejenak Bathari Durga dan Kala menangguhkan dulu misi mereka, mereka kini hanya melihat kilatan cahaya menuju Awang  awang Kumitir tempat bersemayamnya Sang Hyang Wenang, yang kini terlihat duduk memagut di hadapan Bathara Ismayo yang juga hanya menundukan kepala.

”Sabarlah dulu, Manikmaya. Aku tahu betapa gundahnya hatimu mendengar geger di negara hujan.Ketahuilah bukan hanya engkau saja.Perhatikan bagaimana kau lihat sedihnya kakakmu Ismoyo, yang sangat dalam penyesalannya mengenai marcopodo” Demikian petuah sang panutan para dewa kepada Manikmaya. Dengan suara datar namun menyentuh Bathara Guru, hingga kedua matanya kini mengucurkan air mata kesedihan

”Betul dinda !. Sejak jaman Palasara hingga Bambang Wisanggeni, mereka sangat patuh dan mau mendengarkan nasehat-nasehatku.Tapi entah titah mercopodo di negeri hujan. Mereka sama sekali tidak mau mendengarkanku lagi, terutama para petingginya yang angkuh dan kaya raya. Negara hujan kini berganti warna menjadi negara merah membara. Maka wajar saja banyak titah yang saling bunuh, saling fitnah ,saling serang dan saling hasut atau mereka banyak yang bunuh diri. Bahkan banyak diantara mereka yang tega membuang bayinya”, Sang Ismoyo kini ikut berusaha menentramkan hati pemimpin para dewa itu.

”Akupun kini sudah tidak mampu berbuat apapun. Ke empat pusakaku telah aku turunkan agar mereka kembali menjadi negara santun, saling peduli, saling memberi manfaat dan memberikan sebagian kekayaannya kepada yang miskin. Namun tetap saja sekarang mereka senagnbebrbuat onar” Tutur Baathara Guru.

’Ya, akupun memakluminya. Aku akan turunkan Ismoyo dalam wujud seribu bayang-bayang yang mampu menyusup ke tengah hati mereka semua. Teutama untuk para pemimpinya. Sehingga mereka menjadi sejuik hatinya kembali. Tidak ada lagi ontran ontran yang menjadi sarapan kedua mereka”

”Akuipun  memiliki satu permohonan, Romo Pukulun !”
”Sampaikanlah. Ananda Manikmaya ?”
”Aku mohon, turunkan segera satria piningit ke negeri hujan ?”

Sang Hyang Wenagpun bangkit dari singasananya, di dekatinya putra kesayanganya yang didamba menjadi penerus kepemimpinan para dewa. Dipegang erat kedua pundak pujaan hatinya itu. Dengan senyum manis yang hinggap di wajahnya, panutan para dewa itu berkata :

”Satria piningit itu telah aku turunkan jauh jauh hari, yaitu kepatuhan mereka pada darma kebajikan yang sudah diajarkan para nenek moyang mereka. Itulah sebenarnya satria piningit. Anaku kini tugasmulah dan dibantu Ismoyo untuk segera melahirkan satria piningit ”

Sang dalangpun segera menutup pakeliran drama kehidupan,lantaran hari sudah beranjak fajar. Sementara itu semua penonton telah berada di peraduan mereka masing-masing. Panggung sketsa negeri hujan kinipun lengang.

Penulis :Bambang Sukmadji-Semarang

Catatan:

Archipelago                 : Gugusan pulau yang dikeliling lautan
Bioma                          : Lingkungan biologi yang memliki specifikasi tertentu
Mahameru                   : Puncak Gunug Semeru
Sendratari                   : Pentas teatrikal yang disajikan dengan bentuk tarian
Kahyangan Suralaya  Nama suatu tempat bersemayamnya para dewa.
Pralaya                       : Keadaan kacau yang melanda tempat tertentu.       
Sang Hyang Wenang  : Panutan para dewa yang bersemayam di kahyangan    
                                awang-awang kumitir
Tawajuh marang
sesembahan                 : Merendahkan diri dihadapan Sang Pencipta.
Budi candolo               : Sifat jahat  umat  manusia
Pakeliran                     : Babak dalam pentas wayang           
Njati ngarang              : Tombak yang berdiri dan dibawa kawanan prajurit. Sehingga   
                                      mirip dengan pohon jati yang berjejer rapat.
Kondang kawentar      : terkenal di mana mana
Cupu Manik Astagina : Air kehidupan yang digenggam Bathara Guru.
Titah sawantah            : Manusia pada umumnya
Trisula dan Jaludara   : Pusaka yang dipegang oleh Bathara Guru
Singasana Marcu Pundhamanik :Singasana tempat duduk Bathara Guru dalam
  memimpin dunia.
Bathari Durga dan Bathara Kala : Dewa pemimpin para setan dan iblis yang  
  bersemayam di Kahyangan Gondomayit
mercopodo.                 : Dunia dan seisinya.
Bathara Ismoyo/Semar: Dewa yang diturunkan ke dunia untuk memberi pencerahan
                                      kepada pemimpin/petinggi
 Gusti Ingkang Makaryo Jagad :Tuhan Yang Maha Pencipta
Manikmaya.                : Nama lain Bathara Guru

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar