Senin, 19 November 2012

Negeri Berpagar Hujan



BERSEMI DI PAGI INDAH

Mentari belum tentu kembali ke sarangnya,
Menyelinap diantara bukit dan tebing atau
rumpun bambu, tinggi menjulang……
Selalu bergemerisik dalam canda angin

Namun tiada langkah surut…bagi mereka
Menapaki pematang melintang di permadani
warna kuning, bergaris hijau laksana sebuah untaian
dari sosok yang menjaring angin……
mengetam pagi dan merajut hujan

Mereka simpan di sudut benak
Tiada pula warna langit berkukuh kanvas hidup
Tentang hingar bingar  awan jingga yang memburu
selimut pelangi di ufuk senja……
Atau pula cangkul dan parang, yang menganyam
keranjang hidup tanpa sulaman sutra atau
baju pesta.

Mereka bermandi di embung sejuk
Bertepi musim dan pagi milik mereka
Berceria dengan angin pasat pembawa berita
Tentang sawah ladang, kala mereka harus,
Menepis duri dan meranggasnya ilalang

Jangan pernah berhenti wahai pagi
Teruslah embunmu menyelimuti mereka
Sehingga semai dauanan padi dan palawija
Engkaupun kini melepas lelah
Di tanah negeri yang berpagar hujan (Semarang, 7 Oktober 2010)

SEBUAH TARIAN SANTUN

Bila Merapi, Galunggung dan Kelud
Menyeringai giginya dengan batuk yang nanar
Adalah selembar buku catatan
Yang lama tidak bermandikan air telaga surgawi
Atau…..bila saja
Deru lautan ketika menyambangi …
Suatu serambi bernaung manusia
Yang berhelat mengatur nadi darah
Menanam bilah bilah hidup di putaran roda jaman

Ini adalah hidup,
Dalam nagari yang berparas elok
Menuai wewangian bidadari kahyangan
Dengan tari santun tiada membuka batas pandang

Ini adalah suka cita
Dari sebuah rengkuhan Ibu Pertiwi
Berpita rambut kuning keemasan
Bernaung di lambaian daun nyiur
meliuk liuk tubuh sang “archipelago”
dalam tarian santun, menebar cita

Jangan lagi kau cibirkan bibirmu
Bila memang pagi tak hadir bersama mentari
Tapi duduklah bersimpuh dalam hening tiada tara
Atau kau singsingan lengan baju
Untuk menyambut sang jelita
Ibu Pertiwi.    Semarang, 7 0ktober 2010).

DEBU DEBU JALANAN

Jangan kau lihat lagi atap rumah yang kokoh
Berpilar sebuah tekad menebas ketidakadilan
Tentu saja matahari mampu menghangatkan
Halaman rumah yang berhias rumput rumput
Yang liar…lantaran tiada pernah
Diakrabi hujan sepanjang hari

Lantas mengapa pula kau atapi lagi..
atap rumah kokoh…tempat kita menitipkan
anak cucu ….
Dengan kemauanmu sendiri
Padahal telah koyak kelambu malamu
Jangan kau ganggu lagi
Bila daun ilalang, pohon bambu dan batang pisang
Menabuhkan nyanyi kodrati
Tentang negeri untuk hari tuamu.

Debu debu jalan kini meraut kukunya
Untuk mengoyak pematang di sawah
Menebas kebun sayur dan bulir padi
Menghujamkan tajam kukunya hingga ke
tengah kalbu semua yang menyisip keteduhan
enyahlah kau hingga terbawa pusaran angin   (Semarang, 7 Oktober 2010)


ANTARA DUA CAKRAWALA

Satu cakrawala bila menautkan sang angin,
Maka di sebrang cakrawala lainnya
Menghamburkan rintik hujan
Atau salah satu diantaranya meregang nafas
Yang sebrang lainnyapun mengirim badai
Agar sejuk sekujur tubuh…..

Diantara dua cakrawala
Sketsa para dewa telah terlanjur ditoreh
Akan gugusan ratna mutumanikam
Berjejer dengan tangan menadahkan air hujan
Berpagar hujan dan menyemai tabor bintang

Antara dua cakrawala ini…
Kita menitipkan lengan yang ringkih
Langkah yang gontai…
Bahu yang tak seberapa kekarnya..
Namun tiada pernah surut
Menghadapi badai akhir jaman
Menghadapi debu jalanan yang lusuh
Menghadapi pergantian arah angina
Kita tetap merengkuh semua cakrawala.  (Semarang, 7 Oktober 2010).


NYANYIAN  SANG ANAK JAMAN

Sesekali puncak Mahameru menuai
Dan menebarkan selaksa symphony rindu,
Agar bertumpah ruah setiap benak
Dalam menggapai warna warni yang ada
Di belantara asa dan angan

Dengan rona yang hambar dan nanar
Tiada mungkin asap dari rumah bambu
Mampu mencapai garis garis lukisan di langit, mirip
guratan tangan “Sang Maha Guru”
dari Suralaya…

Berdesing angin angin dalam parade
Hingga mengusung sebuah nyanyian,
Menyentuh bibir jaman
Yang ditengarai dengan anak bangsa
Di jaman yang belum pasti arahnya (Semarang, 7 Oktober 2010).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar