Senin, 19 November 2012

Damailah Bumi yang Uzur



Bilai bumi damai,  Artic yang berwarna kelabu
Akan memberikan sebagian Ozonya…untuk merias Glasier di Antartika
Yang menjerit pilu….kita tak kentara mengenalnya,
Dan jangan kau lupakan perawan desa Archipelago
Yang dalam kemasan bajunya, kau nyanyikan’Rayuan Pulau Kelapa”
Bila mereka bersatu dalam pusaran senyum yang ramah
Mungkin akan ada kunjungan El Nino dengan nampan bunga
Yang berkain beludru, bukan dari bulu ulat

Dalam keranjang rotan, berbingkai Khatulistiwa
Yang dijinjing Ibu Pertiwi yang bermata sembab
Lantaran terbengkelai sedari pagi, karena ditinggal…..
Anak anak bungsunya bermain di padang ilalang
Lantas seharusnya kau tundukan saja muka yang bergaris
Keriput menghitam karena telah diterkam ganasnya
wedus gembel” Merapi persembahan dari bibir neraka

Biar saja sang gagah Himalaya menabur benih kesucianya
di atmosfer…hingga melintaslah kereta biru senja, untuk remaja
yang kasmaran dalam kidung cinta bertaut halimun yang dahaga
Atau kala Toba mengenakan Ulos dengan titian pelangi
Agar angin kembara membawa benih padi, jagung dan kedelai
Hingga abang becak dan penjual es menjadi kenyang perutnya

Namun baru saja Fukushima menggertakan taringnya
Gaza bermandi mesiu
Merobek kromosom yang ada di ketiak
Setiap helai nafas di pinggiran melambainya daun nyiur
Atau kita pekikan desah protes
Pada laut yang menghitam, tak terdengar lagi Asmarandhana
Tuna, lomba lomba atau jajanan pagi bagi camar

Kita usung bumi dalam tangan kanan kita
Biarkan tangan kiri menyelinap dalam pakaian kita
Yang kumal tetapi masih menyimpan mawar dan kenanga
Lantas kita pagut dengan sinar mata yang nanar….
Hentikan dan basuhlah dengan air dari Telaga Sarangan
Sehingga anak cucu kita, masih mampu melihat
Menghijaunya Sidoarjo, dengan kerlingan mata Lumpur Panas
Yang lebih berprosa dan sajak tentang Serambi Mekah
Bukit Barisan, Pegunungan Kidul, Gunung Agung dan Tambora

Aku hanya berlengan separo nafas
Dengan legam di sana sini
Karena keganasan hidup dan atmosfer
Tak mampu menuai anyaman atmosfer
Yang berisi pekarangan penuh ubi, singkong dan palawija
Yang sering dilahat Genderuwo yang datang dengan pesta petir
Berkuku durjana dengan sorot mata tajam seperti mata koruptor
Berpakaian penuh warna, karena telah hilang hatinya
Jangan kau pandangi dengan dada penuh kata Tanya
Tapi semaikan kidung suci untuk Sang Penjaga Langit

Semarang,  April 8, 2011-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar