Sabtu, 24 November 2012

Aku Putra Bangsa

persetan dengan yang ada di Bumi Khatulistiwa
anjing NICA mampu bertekuk lutut, terbungkam  howitzer
dan cocor merah yang melipat sayapnya, terbang menyelinap di awan
mengadu kepada tabir langit, tentang gemetar tubuhnya...
ditelikung bambu runcing rona merona

persetan dengan oknum petinggi berbaju perlente, bergaris eksotis
mengaburkan pandang  “Si Kecil “ mengais hari, berselingkuh nasib
di rumah kardus dengan nasi basi mengganjal perutnya
tanpa upeti dermawan yang menjinjing peduli dan tangan halus
meski legam tenggorokanya tertusuk panasnya nasib
bukan hangus lantaran uang korupsi

persetan dengan itu semua,
aku putra tanah ini, aku menepis jauh jauh  apa yang meluruhkan
sayap sayapku yang mungil
tanpa korupsi, akupun tegak membidik hari hariku
pergilah jauh para koruptor dan penerima upeti
biarkan kau terhempas atmosfer bernafas berang...hingga kau
hinggap di tepian kubangan hitam kelam

jangan kau menyanyikan lagi lagu rindu membiru
yang menggeleparkan tiap nafas si kecil, berbaju kusam
biarkan aku memberikanmu kado persetan bercampur ludahku...
agar kau tertunduk malu dan menyunting hari harimu
di jeruji besi, atau terbanglah ke sisi yang damai
bersama para bidadari penghuni tanah yang nyaman
agar kau tak lagi berkata dusta, karena telah terpotong ludahmu
sendiri......

pernahkah kau sejenak menyusun prosa...?
berisi bait tentang pengemis dan abang becak yang beroda aus
lantaran menggigit jalan jalan kota berlobang yang kau
sayat dengan durjanamu yang kelam dan sumbang...
atau pengemis terkapar di bawah baliho di sudut kota
memeluk perutnya sendiri, yang kosong
perut yang menerbangkan protes jaman , tentang uang negara
yang kau sajikan dalam adonan gula gula hedonisme
aku isaratkan pada tanaman perdu, beluntas dan palma
di halaman rumah bambuku,  disaksikan melati dan kenanga
tentang dengus nafasku  sendiri yang tak berujung,
tentang ini semua, tentang saudara saudaraku yang mengepalkan tangan
untuk sebuah ketidakmengertian,
untuk sebuah gegap gempita yang membuat
terjaganya anak anak kita sendiri dari tidur siangnya...
lantaran aroma mesiu persis kembang api
di malam tahun baru, serta desingan batu batu jalanan
yang kau terbangkan dengan  gelora di hati gemetar tubuhmu sendiri

mentari masih bangkit dari Bumi Papua
hingga terbenam di Serambi Aceh
melewati Pegunungan Kidul yang membelah Pulau Jawa...
Negeri Archipelago tak harus melinangkan air mata
tak harus renggang bergandeng tangan saat penganten baru
duduk di singasana berornamen kembang setaman ***Semarang, November  2012

Lembayung  Sutra
tak  pernah kita berhasrat menepisnya
atau melonggarkan tautan lembayung sutra jingga
bersulam benang emas milik negeri hujan dan gerimis
di sini kita membasuh wajah menjadi putih cemerlang
berhadapan dengan cakrawala, bersemayam  Yang Kuasa

saat ini kita menjadi kusam bergaris kepiluan
tentang petinggi negeri yang bermuka manis
mengayuh perahu berisi emas berlian merobek buih putih
yang hanya bersimbah duka nestapa menuju arah angin
entah ke sisi pantai mana mereka melabuhkan perahu kokoh
kita hanya tersumbat dengan  jalan panjang berkerikil
lantaran mereka telah tumpul mata hatinya...

kita dalam erat bergandeng menggapai hari hari indah..
menyisir pagi dengan rambut sutra, mengusung ubi dan
gula jawa, demi perut kita yang  tak  lagi berdinding kerontang
kita sambut angin musim yang menerbangkan semi hidup
dari lembah dan bukit yang berjajar sepanjang mutumanikam
bukan dengan saling halang membenturkan bahu kita*** Semarang, November  2012

Tak Lagi Ku Terbang  Menggapai Fatamorgana

Setiap sudut kota ini menghardiku kuat kuat
dalam seloroh hidup berkemas manusia manusia laknat
menjulurkan lidah  demi hidup,
berkereta  dengan delapan ekor kuda putih
berbaju dari kain rajutan benang emas, merampas
hutan dan bukit dengan kerlingan mata tajam
menjual sumpah janji yang tersimpan di dadanya
terbang ke langit menggambar fatamorgana

biarkan aku kokoh menggenggam apa yang harus
aku dapatkan dari cucuran peluh dan rapatnya sauh
hingga biduku tak lagi menerjang angan
menuju fatamorgana bersekongkol dengan kaki langit
aku dalam damai.
Semarang, November  2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar