Senin, 19 November 2012

Negeriku dalam serinu Kata




Laut Biru
kala Tangkuban Perahu, menyingsingkan lengan..
tak lepas pandangnya pada kabut  menaungi  Selat Sunda
di biru laut perahu kayu,  tak kuasa menahan ombak sendu merayu
saat teduh, semilir angin pasat mengundang Tuna dan Calang,
mereka mangais di lautan biru, tak  pernah surut menjaga hidup...

di  liku raksasa biru negeriku, mereka bertegur sapa
dalam usungan ramah merekah milik nenek moyang ,
dari cakrawala timur sang mentari terbit tanah Papua
hingga kaki langit barat Andalas , beratap Bukit Barisan.

mari kita simak jala dan kail mereka,   dalam kata santun
mereka tak lebih dari sepiring dua piring nasi....
tapi mereka terpincing kedua matanya bila malam menyelimut
berdendang dengan angin muson dan kemarau
tak pernah menyerpih hasrat mengepalkan tangan..
mengotori jalan jalan yang berlobang
atau berdasi semu milik sang koruptor

laut biru cukup memberi janji,  tak pernah usai ...
mereka menebarkan sari dalam buih putih,
menyelipkan seribu ikan di karang dan palung
tak pernah sepotong katapun harus menggerutu, resah dan fitnah
karena mutumanikam yang dinaungi khatulistiwa
adalah tempat sang bidadari bernyanyi merdu, membasuh jalan hidup
dengan air sejuk, tanpa bara menerpa........(Semarang , 14 Oktober 2012)


Lagu Merdu Sang Koruptor
gemercik air pancuran di tengah dusun..
tak mampu membasuh  bibir kelu dan taring busukmu..
bilik bambu beratap rumbai ilalang, tak sedikitpun..
menyejuk hatimu, apalagi jeruji besi berornamen
peluh dan kesah rakyat kecil...
kau seharusnya bernina bobok di lantai pengap;
bukan menyayat bilah hati sang pilu merana
dengan adonan keluh, gundah tercabik asa sang rakyat

kau melintang melawan garis bujur negeri ini
tak juga jera dengan hardikan suara rakyat....
kau berkerah putih dengan  rajutan benang sutra...
namun mampu menjerat leher  beribu ilalang
di padang gersang, tak  bernaung sang penguasa adil
usaikah  panggung pongah di tanah yang tadinya teduh
penuh tarian Ramayana , di serambi negeri  bunga setaman
ataukah terhempas angin jalang ?....( Semarang , 14 Oktober 2012)

Sauh
lemparkah sauh, jauh kau kayuh...
dari perahu yang retak berlayar tak kokoh...
agar kita  mampu menjinjing pagi, semai canda
haluan tak lagi mencapai kaki langit
berdinding tatap mata kosong,  jalan ke depan
kita kokohkan ikatan sauh pada tanah bergelar
padi kuning ayu, tanah beribu harap
tak ada kata isapan jempol
kita akan menang,  dari  sketsa centang perentang
yang disodorkan petinggi sumbang
kita dalam sigap mata tak terpincing ....( Semarang , 14 Oktober 2012)
 Jalan masih jauh
 meluruh..
bara mendekam sekam
tak lagi mengusung
keranda memburu liang

mereda...
merenda legam
rona merah membara..
bisikan setan jahanam

membusung....
terpancung,  mengusung terang
ilalang menantang
tatap mata tenang

mengepal..
jari bersatu, jalan lurus
kita di satu titik

...( Semarang , 14 Oktober 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar