Kamis, 22 November 2012

Kebahagiaan Sang Guru



Padi yang sudah menguning kini telah dibantai habis dengan arit tajamnya, langsung Pak Guru segera merontokan dengan mesin perontok gabah seharian penuh, hingga seluruh tubuhnya kini  dibasahi peluh. Karena kegiatan yang dia lakukan sehari hari itu, maka tak chayal lagi seluruh kulit tubuhnya melegam diterkam sinar matahari. Namun semangat untuk memberi pembelajaran kepada siswa siswanya di sekolah tidak kunjung reda, tanpa sedikitpun ditepis penderitaan hidupnya, yang hanya memiliki selembar pengharapan untuk masa depan anak dan istrinya.

Tergopoh gopoh istrinya menyongsong sang guru tersebut di tengah terik matahari di tengah sawah luas. Ditangan kiri istrinya yang kurus kering itu bergelantung tas plastic berisi bakul nasi dan lauk serta jajanan, sedangkan tangan kananya menjinjing ketel alumunium berisi air teh hangat. Dibelakang istrinya  terlihat anak sulung mereka Bergas, yang ikut mulai membantu bapak dan ibunya, yang belum mampu memberikan janji untuk memberi biaya kuliah seusai dia lulus dari SMA, meski Bergas kini baru duduk di kelas IX SMP.

Suaminya segera menghentikan alat perontok gabah sederhana dan bersiap untuk istirahat, demikian juga ke lima teman  sekampungnya yang membantu panenan pak guru, yang dianggap figure panutan bagi mereka bila mereka menemukan segala sesuatu tentang kehidupan. Kini mereka semua duduk melingkar , untuk bersiap melahap sebakul nasi dan lauk serba gorengan, dari ikan asing hingga tempe goreng. Sementara Bergas sibuk membantu menuangkan sayur asem pada baskom yang cukup besar.

            “Inilah suatu kebagian tersendiri lho, di tengah sawah yang panas, kita makan dengan sayur asem yang segar dan ikan asin, hehehe, aku sudah sering merasakan makan di rumah makan besar di kota besar, tapi nikmatnya tidak seperti di sini, ya kan bapak bapak !!! !” seru Pak Guru Kamtijo pada ke lima tetangganya yang sudah seperti saudaranya sendiri.
            “Entah, Pak, orang aku belum pernah ke rumah makan. Paling banter ke warteg di Semarang, heheheh..” Kang Dibyo terus saja terkekeh, sehingga kelihatan gigi giginya yang hitam dimakan asap rokok.
            “Percuma Kang !, orang masakanya juga tidak selezat yang dimasak istri kita di rumah “
            “Tenan !, pak guru ?”  Pade Saripan tidak percaya dengan apa yang dikatakan pak guru.
            “He..eh tenan De, aku sering ditugaskan kantor ke Surabaya, Solo Jogja bahkan sampai Jakarta. Nggak ada yang senikmat ini hehehe “
            “Betul kata Pak Guru !, aku pernah kerja di Jakarta 3 tahun sebelum aku ketemu Suminah. Aku merasakan kenikmatan kalau makan di rumah bersama istri juga kalau aku di tengah sawah seperti ini. Apalagi baru saja aku hidup sebagai petani bersama Suminah” seru Suripto sambil menikmati rokok rintingan sesudah dia selesai makan.
            “Jadi kalau sampeyan kembali lagi ke Jakarta dan kerja disana, mau Ripto ?” Tanya Pak Guru Kamtijo.
            “Jelas tidak mau, pak guru !. Aku milih di sini saja, hidup tentram dan tenang “ jawab Suripto.
            “Di Jakarta, nyari duit gampang lho Ripto !, nggak seperti di sini, kita hanya mengandalkan panenan, untuk dagangpun sulit karena desa kita terpencil. Maka banyak anak anak kita yang hanya lulus SMP terus merantau ke Jakarta. Cucu sampeyan sudah beberapa tahun di sama, Mbah Wakidi ?” Tanya Pak Guru Kamtijo kepada tetangganya yang bersebelahan dan hampir 20 tahun bertetangga.
            Sembari batuk batuk Mbah Wakidi yang umurnya hampir 70 tahun menjawab dengan pandangan mata kosong, lantaran begitu lama ditinggal cucu pertama dan kesayanganya.
            “Ah..sudah lama mas guru !, aku tidak ingat sudah berapa tahun, tapi aku bersyukur sekarang aku ditemani Hamzah adiknya Ahmad. Dan kemanapun aklu pergi Hamzah ini selalu menemaniku “ Selembar wajah tua renta Mbah Wakidi kembali berseri seri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar