Sabtu, 17 November 2012

Peraduan Tak Pernah Lekang


Berkali kali Mahendra mendenguskan nafas panjang sambil mengkerutkan alisnya dan terus mengganti beberapa kali  chanel televisinya. Setelah yang dia dapatkan hanya tayangan anarkis yang dilakukan pendemo dari beberapa kalangan. Lengkap dengan penuturan reporternya tentang kerugian harta benda dan tak jarang korban luka luka yang diakibatkan anarkisme itu. Tak urung juga tayangan tentang pertikaian petinggi negeri ini, yang justru ikut mempengaruhi meradangnya rakyat yang telah diliputi oleh berbagai macam kesulitan hidup. Kini ulahnya bertambah tidak dapat dimengerti, kala mulutnya mulai mencaci maki entah di arahkan kemana, setelah sebuah tayangan melaporkan tentang kenaikan harga untuk barang apa saja.

Sementara istrinya sibuk di dapur menanak nasi dan menghangatkan sayur asem dan ikan asin, sebuah menu yang menjadi kesukaan Mahendra dan anak istrinya. Menu sehari hari mereka semua didapatkan hanya dari sayur sayur yang dipetik dari kebun belakang rumah. Namun ikan asinya memang harus dibeli dari pasar, itupun setelah Rakhmawati menjual beberapa telur ayam kampung. Terkadang Mahendra sengaja menyembelih ayam kampungnya, agar anak anaknya tidak bosan dengan menu sayur dari kebon belakang rumah.

Sang istrinyapun hanya tersenyum mendengar cacian suaminya tanpa arah dan tujuan yang jelas. Terkadang pula suaminya bersikap sok piawai dalam beberapa hal. Sehubungan dengan beberapa ulah anak bangsa  yang ada ada saja, yang mampu menghangatkan atmosfer Negara ini dan menampilkan sikap yang tak sepadan dengan budaya  asli masyarakat yang melingkungi mereka.

“Huuuh..negara kita ini ibarat rumah tak jelas menghadap ke mana. Mengapa banyak  masyarakat dan oknum pejabat yang gampang naik pitam “. Tanpa meminta persetujuan dan pedapat istrinya,  berkali kali Mahendra melontarkan sebuah caci maki. Sementara itu istrinya segera menyajikan makan malam mereka semua. Di depan televise mereka bersama sama menikmati hidangan hangat dan sederhana,  namun sama sekali tak pernah mereka keluhkan.

“Bisa bisa Negara kita hanya tinggal nama bila terus terusan tercampak dengan berbagai tindak anarkis !”. Sambil melahap nasi hangat Mahendra terus saja berceloteh mirip jurkam parpol di masa kampanye.

“Ya, biar saja, Pak. Asal kita pandai pandai menjaga sikap , jangan seperti mereka “

“Ya, nggak gitu to, Wat. Mereka seenaknya membuat ulah, sehingga membuat resah wong cilik seprti  kita. Kalau sudah seperti ini  banyak pedagang besar menaikan harga barang barang. Coba yang rugi siapa?, mereka para pemimpin apakah merasakan seperti ini ?”.

“Hmmm….memang repot kalau sudah seperti ini, Pak !. Tapi bagai kita yang penting pandai pandai menyikapi saja !”.

“Sikap yang seperti apalagi, Wati ?”

“Paling tidak, kita harus tabah menjalani kehidupan  ini, bersama kita menyekolahkan ketiga anak kita hingga sampai perguruan tinggi. Meski kita hanya lulusan SMA dan keluarga kecil yang hidup di desa. Namun anak anak kita jangan sampai seperti kita. Tentang carut marutnya negeri ini kita sikapi dewasa saja, habis perkara !”

“Tambah pandai, kau Wati ?. Siapa yang mengajarimu ?”

“Siapa sih Pak yang mau mengajariku ?, Siapa pula yang mau perduli dengan kehidupan orang desa seperti kita. Namun tekanan hidup dan ketabahan kita bersamalah yang mencetak kita menjadi orang dewasa”.

“Kau ini terlalu idealis Wat, Kamu cuma memikirkan kepentingan diri sendiri. Bila setiap masyarakat Indonesia berpikiran seperti kamu, mana ada demokrasi?, mana ada pembaruan dan kapan kita maju ?”.

“Kamu juga jangan ego, Pak !. Apa hanya laki laki yang boleh berbicara masalah politik saja. Aku bicara seperti ini, karena sebagian besar ibu ibu berpendapat sepertiku.Mereka tidak butuh partai !, mereka tidak butuh ini dan itu! , mereka butuhnya hanya kedamaian”

“Kamu dengar dari mana ?”

“Pak, aku kan pedagang barang kelontong di pasar, aku kenal banyak ibu ibu di sana. Juga saat aku hadir di arisan RT dan dasa wisma ibu ibu PKK “

“Tapi memang kenyataanya demikian, bahwa negeri in telah bobrok, bayak korupsi dan lain sebagainya dan ini kenyataan ?. Apa kamu mengerti ?. Apa ibu ibu temenmu mengerti?”

“Ya ampun Mas, kalau cuma itu anak kecil saja mengerti. Tapi yang penting kita menjadi keluarga yang tidak mudah patah dan menyerah bila keadaan negeri kita sudah seperti ini”

“Itulah kesalahan kira semua, hanya mementingkan keluarganya masing masing?’

“Mas, jangan kamu gampangkan peran masing masing keluarga. Bila masyarakat kita disusun dari keluarga yang baik, tentu masyarakatnyaoun akan baik jua”.

“Kamu memang sok pintar, Negara harus diusung oleh anak bangsanya yang mau berkorban apa aja demi eksistensinya. Bukan diusung oleh anak bangsanya yang hanya cuma memikirkan keluarga masing masing. Inilah hancurnya Negara kita, karena merebaknya hedonisme, bermegah megahan, sehingga nasionalisme menjadi hilang lenyap “. Entah setan mana yang merasuki jiwa laki laki muda ini sehingga dia sekarang mirip anggota partai yang mempertaruhkan segala yang dia miliki demi visi yang dibelanya. Mahendra segera menghentikan makanya, meski nasi yang masih di piring makanya masih banyak tersisa. Mukanya kini merah membara. Sedangkan ketiga anaknya sudah merajut mimpi mimpi indah di tengah angin senja yang dingin dari Gunung Merapi.

Rachmawati istrinya kini hanya tersenyum, diapun tahu bahwa suaminya kini sedang diterjang amarah yang konyol. Dan bagi Rachmawati sikap kekonyolan suaminya itu bukan hal yang serius. Inilah cinta kasih yang menyatu dalam tiap nadi kehidupan mereka, menyatu dengan dinding rumahnya yang masih centang perontang, menyatu dengan atap rumahnya yang hanya tersusun dari asbes, menyatu dengan kebun sayur dan buah serta bunga bunga di halaman depan mereka.

Tanpa ada sapaan dan seberkas senyum Mahendra segera berlalu dari istrinya yang mulai sibuk membersihkan makanan mereka. Mahendra segera menuju peraduanya di kamar tengah. Tidak seperti biasanya dia selalu menyaksikan tayangan acara demi acara televise hingga larut. Apalagi belakangan ini dia sangat setia menyaksikan kejadian pilu saudara saudara dari Kepulauan Mentawai dan Gunung Merapi.

Rachmawati hanya diam membisu, meski hatinya sekarang tersenym geli menyaksikan tingkah polah kekanak kanakan suaminya. Bagi dia sikap suaminya ini hanyalah ego yang belum juga mau surut, meski mereka telah menyatu dalam segala hal hampir 15 tahun lamanya. Dalam hal ini dialah wanita satu satunya yang mampu menyurutkan ego yang konyol ini. Karena pada dasarnya mereka emiliki peraduan yang suci tempat mengurai segala permasalahan, menyatukan silang pendapat antara mereka serta merenanakan apa yang bakal mereka hadapi bersama esok pagi.

***
Pintu kamar tidur di bagian tengah mereka berderit, karena telah aus engsel engselnya dimakan jaman. Rachmawati segera medampingi suaminya yang diam seribu bahasa. Kala sang suami tercinta menolehkan wajah ke arahnya, seberkas senyum wanita desa itu berhasil mencairkan hati Mahendara yang semula sekeras batu karang. Mahendra segera menarik tubuh sang istrinya untuk mendekatkan  tubuhnya, sementara wajah Rachmawati kinipun terbenam di atas dada yang bidang itu. Dengan penuh kemesraan tangan Mahendra tak hentinya mengusap rambut hitam pujaan hatinya itu.

“Tadi kiya ngapain, ya Pak ?” .Suara Rachmawati memecahkan sunyi peraduan mereka.
“Ah…nggak tahu ?”
“Kamu marah sama aku, Pak ?”
“Ya, tadi. Sekarang sudah nggak lagi”

Angin malam mengiringi dua ekor kobra yang saling memagut satu sama lain di atas peraduan yang basah dan hangat. Tidak perduli di luar sana manusia saling menjatuhkan satu sama lain, saling mengusung harta Negara dan saling berebut kekuasaan. Tapi bagi sepasang insane yang sederhana tapi berjiwa matang itu sibuk membenahi peraduan mereka yang tak pernah lekang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar