Kamis, 15 November 2012

Konfrontasi



“AWAN GELAP”  DI BUMI MELAYU

Hamparan Negeri-negeri  yang Subur

Ketika tabuh genderang beriuh rendah……
Dari Negeri Kahyangan , tempat dewa semayam
Menyiratkan berita gembira pada seisi alam maya
Jauh dari balik Himalaya…..hingga ke tengah Sahara
Tentang hiasan “mutumanikam”  yang kini memenuhi
“jagad berkungkung samudra dan berpantai nyiur”.
Mereka melambai….saat nelayan memetik hidup….

Bila pasat meliuk…….
Bulir padi menunduk dan menguning.. menggapai  damai
Sapi perahan melenguh menguntai makna
Padang luas biarlah berbenah, lantaran disitulah sebuah
Rumpun hidup tentram, damai, adil dan sentosa
Dihamparan negeri-negeri bertabur wangi bunga (Semarang, Agustus 2010)

Genderang “Ganyang” 1965

Tiada kita mengerti, padi menjadi legam menghitam
Bejejer di sawah yang menghembus nyinyir darah
Sementara Sang Pasatpun menghembus deru mesiu
Semua alam meradang…..
Ditoreh pelangi merah membara

Lantas mengapa rumpun hijau kini menyodorkan
Bilah daunan yang melenggangkan kebencian
Sementara nyanyian anak di padang purnama
Berganti dengan pekik ganyang

Kita tepiskan saja keranda pembawa ajal
Di balik cakrawala yang tak kunjung fajar
Hanya pekat saja bertabur hati manusia yang nanar

Jangan  kita ikuti angin kembara
Yang merajut duka lara……
Mari berhias di semai rumpun hijau menawan (Semarang, Agustus 2010)


Dua Putri Ayu  (Sipadan dan Ligitan )
Kala dewa hendak melepas lelah..
Di pangkuan dua putri ayu mereka melepas dahaga
Kala angin badai menggulung ombak lautan
Di pangkauan merekalah…badai meluruh

Kala kita hendak mengusap wajahnya
Sang bayang hitam berona keangkuhan
Menghardik dan menepiskan tangan kita

Kemanakah warna-warni dandananmu
Ketika kaki langit milik “Sang Putra Palapa”
Hendak melepas sauh…..(Semarang, Agustus 2010)

Pentas Saudara Kembar
Panggung pentas sudah dipenuhi asap pengap
Suara “kenong kimpul” makin terdengar parau
Tampilah barong “Batu Pahat” dengan gambar wajah legam
Kedua kaki dan tanganya bergiliran menampakan getar.

Tak segan munculah Sang Reog ,
bersulam “Ki Ageng Kutu Bre Wirabumi”…..
Barongpun meliuk menapaki “Dadap Merak”
Barong tersipu malu…….
Keduanya mensenyapkan panggung yang riuh……(Semarang, Agustus 2010)

Merajut Angin Kesejukan
Tiadalah beliung ataupun kemarau panjang
Berhias padang ilalang dan belalang
Tiada pula pekik tangan mengepal…..
Sehingga tiada lagi purnama bergantung

Arah tenggara ketika kita menanam palawija
Arah barat sepoi ketika kita menebar padi
Ke dua arahlah kita bergandeng
Merajut masa depan di cakrawala esok   (Semarang, Agustus 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar