Senin, 19 November 2012

Birama Hidup Manusia



Jalan panjang berdebu, beterbangan tak tentu arah, dihempas angin menelikung
bagai “sesaji para dewa” ….ketika marah dan menghardik.
Beberapa diantara manusia yang ada di jalan itu,
Memburu diriku seakan akan bernafsu mengulitiku,
Tanpa seloroh aku sodorkan, tanpa hendak menerjang
Mereka memburu nafas.
Mereka tiada mengrti di mana harus menyimpan hati.
Mereka tak mau membumikan sorot mata.
Hendak menghanguskan tulang igaku.

Janganlah kau timbang hidup ini.
Dengan apa apa yang tak mampu kau lihat, esok pagi……
adalah dalam tabir berkelambu benang sutra.
Jangan pula kau lepas ikatan kalau kau menghitung hari, merajut….
angin dalam keranjang bambu.
Atau meranggaskan Akasia
Tempat anak anakmu berteduh,
dari binalnya sang waktu

Larilah sekencang angin.
Kala menjemput ilalang yang hanya diam membisu.
Pada istana yang kau susun sendiri.
Di balik tempat sejuta sayap putih bergetar.
Kau tetap menghardik hatimu sendiri.
Kau tetap menyempitkan rongga dadamu.
Aku hanya memincingkan.
Sebelah mataku.
Lalu kau membara.
Sepi…….
Aku sendiri………(25 September 2010).

PERHELATAN
Belum mampu juga, awan awan langit biru meniru
manusia…dalam menjinjing warna semu.
Warna itu beruntai peluh yang menelanjangi…..
Mentari di siang hari..atau berselimut
angin …ketika malam telah dingin

Beribu genggaman mengabarkan pada ornament
di tepi jalan, tempat lalu lalang dengus nafas
Menggagahi suara alam datang dari celoteh,
beribu burung di tepi telaga  tempat berlayar
perahu perahu kertas dan sauh yang tak lagi mampu menambatkan
hasrat…….
Janganlah kamu berteriak nyaring
Hingga membangunkan bidadari di Suralaya
Dan menggusarkan wajah Bethari Durga.

Perhelatan kini memenuhi setiap beranda rumah
Namun aku telah kelu lidahku
Hanya semu batas memandang, lebih baik…
aku menggapai ke tempat embung
di kaki bukit………
tempat, aku dan anak istriku membersihkan badan.
Ketika hari telah senja

Perhelatan ini menusuk tengah hari, laksana pesta pengantin
Jalan tertutup debu dan pekik serta hiruk pikuk.
Beribu kertas merah kusam memenuhi ruang nafas
Nenek nenek tua bergincu tebal
Ikut tertawa terkekeh, meronakan tengah hari

Semua meradangkan gempita
Semua menyanyikan senandung hati yang nantinya
akan terlemparkan pada fatamorgana penghias “rayuan bunga kertas”
agar si anak kecil bobo di sore hari
Jangan kau saksikan angin malam berujung tajam
Merendakan deru dan debu, mengibaskan semua santun
Yang disimpan di sudut rumah masing masing penghuni
Nusantara.

Gambarlah langit yang sesuai dengan ketiak tubuhmu
Lantaran tiada lagi kabut yang menghimpit
Setelah kembang tulip berkelopak jingga
Dan bertangkai putih salju
Telah terkubur hidup hidup di gerigi jaman
Namun jangan kau hardik
Anak desa di punggung kerbaunya
Yang masih setia dengan sawah ladangnya
Ketika rasa rindu pada padi menguning
Tidak berias di tengah perhelatan ini

Hingga kau sendiri yang mengagungkan perhelatan ini
Hanya duduk di sudut rumahmu sendiri
Akupun hanya mengerling
Lantas pergi memburu sunyi (25 September 2010)


WARSI
Dia hanya mengenal bulan kelahiranya
hanya dengan Bulan Jawa
dia hanya mampu menumbuk padi,
memasak nasi, menyedu teh untuk suaminya
memandikan anaknya agar sedini ke sekolah
di tengah kabut pagi yang
merenggutnya.

Buah bibir manis berisi kembang setaman
Dia dapatkan dari penyihir pinggiran jalan
Untuk hidup dengan gaun nyonya belanda
Di rumah loji berlantai marmer
Bergenteng semen
Dan sebuah andong bersaiskan pemuda perlente
Tampan dan gagah

Lantas dia menerpakan debu debu jalan
Agar jalan dipenuhi dengan lunglainya tubuh manusia
Dari sebrang jalan
Yang dia sendiri tak pernah menginjaknya
warsipun meronakan wajahnya bagai kilat di tengah hujan
memusari puting beliung,  hendak
mendandani moleknya Sang Ibu Pertiwi

Warsi hanyalah warsi
Tiada  lebih anak desa
Yang hanya mahir bersawah
Warsipun hanya warsi
Yang tergolek sepi..di sudut jaman (25 September2010)

MALAM PEKAT
Mereka berduyun menembus pekat malam
Mencari ilalang yang bertepi daun yang tajam
Yang sering melukai kaki si bocah
Kala bermain mencari belalang,
di padang yang gersang.

Mereka membawa lampu minyak
Yang temaram menemani sinar sang rembulan
Langkah kakipun masih belum laju
Di jalan jalan penuh kerikil dan berliku

Di malam pekat sebagian mengiba
Di malam pekat sebagian menerjang
Dengan bara api kebencian  (25 September 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar