Senin, 19 November 2012

Merajut Cakrawala Negeriku



Sebuah Perjumpaan

Saat datangnya sang rembulan
Menjenguk langit malam yang mengering
Ketika kaki langitpun menebarkan……
Semai mawar dan harum semua
yang  di dekatnya…
Kapankah ?...untuk sebuah hati kecil

Semua yang telah menghitam kulit tubuhnya
Wajah tertunduk lantaran letih
Sementara gemerisik ilalang masih saja
Menjadi teman kala gersang meradang
Dipingit kabut yang menyesak dada
Kitapun perlu berjumpa

Ketika lidah membeku dalam kelu
Dunia hanya dalam kanvas semu
Tertatih di tengah sawah ladang
Yang diterjang kemarau tanpa mengenal iba
Petirpun tak pernah menjinjing hujan
Hingga pandang mata tak lebih dari bias

Angin yang tiada menyodorkan nama
Terus saja melambungkan tubuh
hingga menyentuh dinding suara di jauh sana
yang dikerumini sayap malaikat
dengan sayap yang tergelar rapi…untuk sebuah
bilik jantung……..
Lantas mengapa belum juga meminangku
Sang penganten di sudut senja yang sepi…
.
Semarang, 14 September 2010

Ketika Fajar

Tiap pagi yang kutemui
Adalah kekasih pujaan sang fajar
Saling memberi arti dengan untaian bunga
Bila sang kupu-kupu masih setia
hadir mengusung suka cita

Di tengah fajar merekah menjadi samudra
Belaian manis sepoi angin
Turut mengurai hadirnya bayang hitam
Yang kencang melilit tulang tulangku
Dan hampir tiap jarum jam menelan hidup
Tebing tebing terjalpun
Tak henti ingin melumatku
Akupun menghampiri sang fajar

Semarang, 14 September 2010

Sayap Sayap

Dengan kukunya yang runcing
Sayap sayap itu menelikung bumi
Layaknya sudah tak mampu lagi
bumi berputar mengusung kehidupan

Sayap sayap itupun dijaga
Sebagian manusia yang  sedang menghardik
Buih laut yang bergelombang
Menelan pantai, kala manusia menunggu
lambaian daun nyiur
untuk mengatur nafas

Sayap sayap
Teruslah mencengkeram bumi
Agar tiada liar lagi
Sayap sayap
Teruslah menggambar langit
Agar tiada lagi badai
Di sejengkal tanahku
Di dalamnya terdapat seribu nafas
Inilah nusantaraku

Semarang, 14 September 2010

Masih Kudengar Suara Alam

Kita memang manusia dungu
Ysng tak mampu mensirati bahasa
Stunami ketika bertandang di serambi rumah
Membawa kabar
Untuk bekal manusia esok hari

Lantas karena kita bungkam
Sinabungpun ikut larut dalam
percakapan alam
Namun sekali lagi
kita lebih senang bahasa
dalam oplosan yang meringkuk di botol
Hingga mampu menerbangkan
Semua tubuh dalam langit
Bersusun tujuh

Bahasa lainpun datang
Dari dalam bumi yang melambung tinggi
Hingga bertandang ke rumah
semua yang masih menyelip asa

Namun manusia menyodorkan
Bahasa yang aneh untuk alam
Lebih suka memenuhi kantong bajunya
Yang sarat denga catatan harian si miskin
Entah nafas ini milik siapa
Bukan para petinggi negeri hujan setahun

Suara alam…
Entah datang  kapan lagi
Cakrawalapun menunggu
agar engkau tak lagi garang menerjang

Semarang. 14 September 2010


Taman Hatiku

Istriku yang elok
Bersama anaku…di pagi
Memenuhi seloroh kala hati berbunga
Berhias taman hati…
Berkubang archipelago dan angin muson
Sebuah taman hati disusun bersama

Berdinding bukit barisan
Kala pagi membujurkan dingin
Nyalakan kawah Jaya Wijaya agar
Hangat memenuhi jiwa kita

Namun batas taman hatiku
Telah dirusak kucing hitam
Yang haus sekerat daging
Yang dibumbui sedapnya rempah rempah
Yang tumbuh di taman hati

Akupun menjadi jalang
Melempar kucing hitam dengan
Kepalan tangan
Agar tiada lagi kepala yang mengeras
Karena diganjal kesombongan
Dari balik bangunan loji kompeni

Semarang, 14 September 2010

Negeri para Dewa

Ketika sang dewa di kahyangan
Tersenyum berseri, hingga nampaklah
gigi mereka tergambar biji mentimun
lahirlah tanah berpantai nyiur melambai
dengan kubangan kerbau
di tengah sawah yang menguning

Semarang, 14 September 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar