Kamis, 27 Desember 2012

Cakrawala Negeriku

1.      Sebuah Cakrawala Negeri yang Bersolek Benderang

dalam keranda jaman

kita simpan dusta terkubur dalam dalam,

agar tak bangkit menjadi monster bersayap

yang menceraikan belulang anak cucu kita...

 

lepas sudah debu debu jalan dihardik rona marah

anak negeri bertatap mata ganas,

 

lepas sudah ikatan gerigi mengoyak nafas

yang tersengal,  menanti tabir  pagi berenda senyum

biar saja sang koruptor hinggap di etalase kusam

meski jalan telah terlintang baju baju berendra sutra

kita tak usah mengoyak separo dada kita

yang memendam rajutan kain keadilan

 

lepas sudah bedil  menyalak mencari dada telanjang

dari sang piawai panggung sandiwara

kita hanya menyodokan sketsa negeri di kanvas

bertepi manik manik kemanusian

hingga sang palu keadilan tidak memincingkan mata

melempar sorot kebencian pada si lengan kecil

 

 

kita hanya bergayut di cakrawala sisi timur lagit

tempat kita berkubang di hutan dan ngarai

yang menyimpan selaksa kekayaan negri...

di balik pagar bambu negeri kahyangan

polos senyum sang bidadari pengobat dahaga

lantaran diterkam perjalanan panjang jalan penuh debu

 

di cakrwala timur benderang telah menyibakan

tebing tebing tinggi meretakan tulang iga...

milik kedua tangan yang lama terlipat

milik sang petani yang menunggu arah musim

untuk abang becak  yang mengayuh di aspal berlobang

kepada sang guru yang telah tumpul penanya

kita menjalin tangan tangan kita

merentangkan tangga menuju cakrawala yang benderang

(Semarang, 27/12/12)

 

2.      Kota Sunyi

untuk  apa  kota yang sunyi ini

menabur  sorot lampu hias , bila tak

sepadu dengan warna hati sang penghuni

 

untuk apa kota ini bergaun beludru biru

bila tetap dipenuhi durjana dari negri iblis

tak mampu direngkuh jeruji besi

kota ini tetap menjadi sunyi mencekam

berjelaga kemunafikan

berhias bunga kertas di kedua sisi jalan

dengan aroma menyengat  menusuk jantung hati

(Semarang,27/12/12)

 

3.      Segelas Teh Hangat

gerimis membungkam wajah pagi

membasahi  semua asa di tulang sendi kita

menyurutkan kayuh langkah hidup

menjemput sang guratan tangan

yang tersembunyi di bilik hati kita

namun  kawanan burung tetap memekikan genderang

agar kita tetap menyapa hidup

 

dalam segelas teh hangat

kita bunuh semua aliran darah yang membius kita

dalam segelas teh hangat

tersimpan hidup untuk  memungut warna pelangi

lantas kita bentangkan di halaman rumah kita

untuk menjenguk tatap mata kedepan

agar negeri kita berhias bunga wanga wingi

(Semarang, 27/12/12).

 

4.      Untuk  Pak Guru

masih jauh jalan panjang

berpagar belukarberujung batas pandang

jangan dulu kau menghela nafas

bila laut biru masih menebar jerat

hingga  kita dalam kelam seribu dinding

 

meski kau tak bernoktah seribu jasa

namun dalam hati masih kau semai

taman bunga digurat pena emas

aturlah nafasmu agar negeri

brornamen damai seribu bidadari

(Semarang,27/ 12/ 12)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar