Senin, 19 November 2012

Kampung Ilalang



( Sketsa Berbagi Kasih dan Peduli di Era Keterpurukan Sosial dari Penulis Pinggiran)

SEPERCIK AIR
Mereka mampu menumpahkan batas pandang
Menyisir tiap celah bukit
Yang melingkungi
Untuk melihat semburat,
Rambut Sembodro atau Supraba
Yang beruntai kuning keemasan…

Sebutir jagung yang tumbuh
Di pematang kebun berbatas keadilan
Dirimbuni daun singkong, mentimun
Untuk bekal hari esok
Mereka untai dalam birama,
Agar anak cucu mampu bermandi
cahaya rembuilan di tengah sawah
Yang mengering tanpa gemercik iba

Mereka saling bertaut…bila ufuk telah redup
Kala benang sutra kehidupan
Dirajut dengan tepi yang tajam
Dan menghujam ke tengah jantung mereka
Terhempas dalam sorot mata
Yang mampu menguliti mereka

Pagipun tetap berpagar
Burung yang memadu hasrat
Berbulu warna warni, ketika angin meradang
Menggandeng  tikus tikus rakus yang merobohkan
Akar rumpun ilalang

Illalang itupun merobohkan daunya
Menuju kaki langit
Sebuah teriakan mereka
Engkaulah sepercik air……
Kamilah berbaju kekeringan
(Semarang, 21 September 2010)

PARADE  JALANAN
Mereka tak lebih dari jerami
Yang ditumpuk di tepi jalan kehidupan
Karena terpanggang angin kemarau
Yang bersemayam
Dari empat penjuru kaki langit
Apa arti sebuah desah gemerisik
Dari daun ilalang yang mengering
Tapi tiadalah mereka merenggut
Rumpun akar yang tertanam di bumi
Engkaulah milik kibasan bumi

Janganlah kau tebarkan lagi
Biji biji sehingga melupat gubug bambu
Hingga meranggasnya pohon pohon kekar

Gemerecik air kalipun
Akan menghijaukanmu
(Semarang, 21 September 2010)


JANGAN KAU TANGISI DUKA LARA
Di sudut kebun tiada bernaung
belas kasihan…….
Di tepi bunga Raflesia berdaun kokoh
Menyeruakan bau busuk
Menusuk semata rumpun tiada berdaya
Apalagi di samping bunga,
berkelopak sipit
Dan berakar tunggang
Bukankah bunga kokoh
Yang bertangkai seputih salju…
Telah layu…..

Apalagi deru perubahan
Telah mengenyangi perut kebun itu
Namun biarlah rumpun berkalang sudut
Berakar di kubangan tanah sejuk

Duka adalah tabir….
Milik anak ingusan
Tiada mampu meraih kanvas
Di belahan bumi
Di balik Mahameru
(Semarang, 21 September 2010)

KASIHKU
Telah terpagut aku di senja hari
Ketika kawanan merpati berbulu jingga
Memenuhi langit
Belahan barat

Aku kumpulkan suara cengkerik
Untuk menyuarakan symponi hidup
Aku kumpulkan pula air tawar
Yang kujaring dari angin malam
Untuk membasahi cinta bening ini

Temaramnya malam bukanlah kutukan Tuhan
Yang bersemayam di hati kita
Malam adalah kala langit
Ditaburi sayap
Dari sang putih bersih
Agar mengirimkan pesan
Untuk beranda hati kita
Yang dihinggapi burung hantu
Mencengkeram hingga ujung sendi

Akupun bersama sang pagi
Siulan burung dan batang bambu
Menggeleparkan hati kita
Untuk menantang istana ufuk
Merentangkan bilah daun kita
Kita adalah ilalang

(Semarang, 21 September 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar