Kamis, 22 November 2012

Sihir Tomcat



SENJA sudah mulai menggelapi rumah sederhana, yang berlantai semen dan berdinding setengah bata. Atap rumah sederhana yang  terbuat dari genteng  merah sederhana itu, masih menyimpan hangat terkaman sinar matahari yang seharian penuh tadi mengakrabinya. Angin pancaroba  yang seharian  menerbangkan debu debu dari arah bentangan sawah  di sebelah  mulai lelah, berganti dengan langkahnya yang semilir. Sehingga semua daun pisang di halaman belakang, hanya mampu tertunduk lesu.

Seperti biasa tiap senja menyelinap pekarangan rumahnya,  Sukoco  mulai memutar-mutar lampu neon lusuh 10 Watt di halaman depan agar mampu menyala. Meski sinarnya sudah mulai surut, namun lampu neonya mampu menerangi jalan tanah yang ada di depan rumahnya. Sehingga lubang lubang jalan yang dilindas roda pedati kini dapat terlihat jelas. Terdengar batuk batuk kecil Sukoco menyelinap dinantara kelengangan desanya yang sedang dirundung sebuah kegetiran. Batuknya semakin melengking saat ,  semilir angin senja mulai membalut tubuh Sukoco yang kurus kering itu. Namun lelaki yang menghabiskan seluruh hidupnya di sawah ladang itu, lebih memilih menghangatkan tubuhnya dengan menutup rapat rapat  dengan sarungnya yang  kumal.  

Sukoco segera beranjak dari duduknya, setelah beberapa serangga tomcat beterbangan dan hinggap di dinding  beranda rumahnya, segera dia berkelit kesana kemari, mirip Pendekar Rajawali dalam serial silat mandarin “Return of The Condor Hero” yang mahir memainkan pedangnya. Sarungnya yang tadinya membungkus tubuhnya kini berganti digunakan untuk menyambar setiap tomcat yang terbang di seputar tubuhnya. Rupanya tomcat itu kembali menyatroni rumah papanya dan kini nampaknya semakin bertambah banyak jumlahnya. Rasa kesal Sukoco kembali mengisi seluruh hatinya seperti malam malam sebelumnya. Padahal kemarin malam sudah cukup banyak serangga itu bergelimpangan di lantai semen setiap penjuru rumahnya,  setelah dia semprot dengan obat serangga  sisa dari musim tanam kemarin.

Namun kawanan  tomcat itu tidak menggubrisnya, seakan akan mereka tahu bahwa  Sukoco dan teman-temanya yang mengusik ketentraman hidup mereka, petani desa itulah yang membunuh wereng yang menjadi santapan mereka setiap hari, ditambah dengan bau obat serangga  yang merambah setiap jengkal sawah mereka, yang telah membuat mereka mual perutnya dan memeningkan kepalanya. Bahkan tidak sedikit  teman mereka yang tersungkur menghembuskan nafas.

“Tomcat sialan, ayo maju rasakan sarungku !!!’. Setelah beberapa puluh tomcat bergelimpangan, Sukoco segera kembali siaga dengan kuda-kudanya mirip pendekar
sakti yang menantang musuhnya. Mendengar teriakan Sukoco yang memecahkan keheningan senja di tengah perkampungan petani yang dibelit kesusahan hidup. Beberapa
tetangganya segera merangsek mendekati Sukoco, yang kini mengerahkan semua jurus silatnya dari mulai aliran mandarin hingga jurus Betawi untuk mengalahkan tomcat.

“Pak !, jangan seperti orang gila !, malu dilihat tetangga !!” teriak istrinya yang mengambil langkah seribu keluar rumah setelah mendengar kegaduhan yang dibuat suaminya.

“Biar saja !, biar semua tomcat ini mampus !, aku sudah semprot dengan oabt serangga, tetapi mereka tidak mati !” Sukoco sudah menepikan akal sehatnya, memang dia telah kesal dengan tomcat-tomcat durjana yang nekad menyebar di rumahnya dan sebagian menyerang gabah yang baru saja dipanenya.

“Tapi jangan seperti orang gila !”. Lengkingan Ponirah membentur dinding bambu rumah tetangganya yang berjajar di jalan tanah berlapis batu kali yang berhamburan di atasnya.

“Yang gila aku apa tomcat, Pon ?” teriakan Sukoco dibarengi kedua matanya yang melotot pada Ponirah istrinya.

“Kalau yang gila tomcatnya!, apa kita akan menirunya ?” kembali Ponirah mengajukan protes keras.

“Iya!, kalau perlu !, lihat tuh Pon!. Semua tetangga kita sekarang jadi edan memburu tomcat sialan ini. Jelas ini kemarahan sang penunggu sawah-sawah kita. Sehingga tomcat ini menjadi berani dengan kita “ Kedua kaki Sukoco kini berhenti berjingkrakan yang tadinya mirip Jacko yang asyik menyanyikan lagu “Black and White”. Kini sarungnya dikalungkan ke lehernya, mulutnya mulai berkomat kamit menghujamkan mantra sakti pada kawanan tomcat yang kini masih beterbangan kesana kemari di dalam dan pekarangan rumah papan Sukoco.

“Pak, kamu tambah memalukan. Ingat Pak !, tetangga kita mulai berdatangan menontonmu, Pak ingat,Pak !!!!!”.

“Edan kamu !, tomcat itu tidak sembarangan hewan, tidak seperti biasanya mereka berani dengan kita. Mesti ini karena sihir penunggu sawah kita. Sekarang diam kamu !”

Kerumunan tetangga Sukoco bertambah rapat, beberapa diantaranya juga ikut berkomat
kamit mulutnya, wajah wajah mereka tengadah ke langit hitam. Mereka kini semua berniat mengajukan protes pada siluman siluman di langit sana yang menggembalakan tomcat yang liar dan ganas. Terlebih lebih Sukoco yang merasa menjadi pusat perhatian tetangganya menjadi semakin liar dan tak tahu malu. Seluruh tubuhnya kini mengginggil, dan dari mulutnya terdengar suara melengking.

“Hei, sang penunggu Desa  Gondang Manis!, Hentikan kemarahanmu !, bawa pulang kembali tomcat kamu semua !“ seru Sukoco.

“Sukoco !!!!”, panggil Langgeng Budarjo yang memecahkan konsentrasi Sukoco yang berdiri di tengah kerumunan lengkap dengan pasang aksi yang berhasil menghipnotis tetangganya yang meyakini kekonyolan Sukoco. Laki laki kurus kering itu segera menghentikan mulutnya yang komat-kamit, dan segera menyapu sorot mata tajam pada lelaki tua beruban yang kini berdiri di depanya.

“Ada apa, paman !”

“Kamu sudah edan !” bentak Langgeng Budarjo yang seusia ayah Sukoco.

“Jangan usil dengan niat saya, paman !, ini demi ketentraman desa kita. Lihat paman !, banyak tetangga tetanggaku yang ikut mengusir tomcat dengan caraku !”

“Anak edan !, sampai satu bulanpun kamu berjingkrakan seperti itu tidak akan berhasil mengusir tomcat “

“Maksud paman, bagaimana ?”

“Mereka seperti kita, apabila rumah dan makanan mereka telah terusikpun mereka akan mecari rumah lainnya “

“Tapi mereka telah menggigit tetangga kita ?”

“Mereka tewas ?”

“Tidak ?”

“Berapa tomcat yang kau bunuh ?” bentakan Langgeng Budarjo kian menggema memecah pekatnya malam.
 “Sudah banyak, paman !” jawab Sukoco jujur.

“Itu perlakuan tidak adil namanya !” seru Langgeng.

“Merekakan hanya serangga  !!!! “ Sukoco mulai tersudut dengan

“Mengapa kamu komat kamit dan berteirak teriak menggegerkan kampung, kalau mereka hanya binatang ?”

“Paman !, mereka semua pasti dikerahkan kekuatan gaib yang marah kepada kita. Mereka sepertinya telah bertindak diluar wajar “

“Apa mereka mampu mendengar permintaanmu ?”

“Aku minta kepada sang penunggu desa kita , yang mengerahkan tomcat itu ?”

“Sukoco !, tomcat bukan saja menyerang desa kita. Tapi sudah menyerang ke wilayah lainya di negara kita. Apa sang penunngu itu menyebarkan tomcatnya  ke seluruh wilayah negara kita. Pakailah nalar, Sukoco. Aku juga warga desa sini yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, tapi aku pakai nalar “

“Paman, seperti juga ulat bulu tahun kemarin, mereka juga menyerang desa kita !” sahut Sukoco.

“Mengapa tidak kau pintakan pada sang penunggu desa ini, akhirnya mereka hilang sendiri kan ?”

“Apa salah saya berdoa kalau kita kena musibah ?” tanya Sukoco.

“Kalau berdoa dilarang, jelas menyalahi ajaran leluhur kita. Tapi berdoalah kepada Tuhan Yang Kuasa bukan dengan cara seperti orang kesurupan ?” jawab Langgeng dengan penuh bijaksana. Kini terlihatlah sorot mata Sukoco yang sudah tak seliar tadi.

“Baiklah , paman !. Terserah apa maunya  paman “

“Baiklah Sukoco !, dan semua saudara saudaraku. Serangan Tomcat seperti ini tidak akan bis dihentikan dengan cara apapun. Yang pertama mereka sudah kehilangan banyak wereng yang menjadi makanan mereka, karena obat serangga. Disamping itu juga musim di wilayah kita sudah rusak, sehingga kehidupan merekapun sudah diluar kewajaran
alam. Mereka akan hilang sendiri jika musim kembali normal. Kalian semua jangan tersihir tomcat tomcat ini. Mereka tidak akan menggigit kita, mereka juga bukan hewan berbisa. Jadi tutuplah semua pintu dan jendela rumah kita kalau malam tiba. Matikan lampu sebelah dalam, biarka lampu diluar rumah menyala. Ini bukan kemarahan sang penunggu desa ini “

Kerumunan warga desa itu menjadi bubar, masing masing warga berjalan dengan muka tetunduk. Terlebih lebih Sukoco yang tanpa pamit meninggalkan kerumunan itu dan mengunci pintunya rapat-rapat. Tinggalah Langgeng Budarjo yang termangu di tengah pekarangan rumah Sukoco terpagut dinginya udara malam desa Gondang Manis yang masih hijau lestari. Dalam hatinya kini terselip rasa syukur yang dalam, karena saudara saudaranya tidak terjerumus dalam kepercayaan yang sesat***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar