Kamis, 22 November 2012

Hantu Reformasi



“Lagu Rayuan Pulau Kelapa”  yang dibahanakan oleh RRI dan TVRI tiap tengah  malam, masih saja mampu membawa ingatan kita tentang “Bangsa dan Negara Archipelago yang  menawan ini“, yang  dahulu beberapa dasawarsa masih mampu  bernaung di erotisnya  alam hijau, dari  mulai Bukit Barisan hingga Pegunungan Roro Anteng dan Joko Seger  di Lereng Gunung tempat Sang Brahma beristirahat melepas lelah.

Tanaman bakau tak ketinggalan pula ikut meliukan  pinggangnya kala daun nyiur bercengkerama dengan angin pagi.  Datang dan pergi burung bangau dari sarangnya yang tersembunyi di sudut desa hingga sawah sawah yang tergenang air hujan, untuk tumbuhnya padi.

Hutan, ngarai, sawah dan  lading bergegas untuk memberikan senyum  tawarnya pada manusia manusia yang murah senyum, santun dan tak pernah saling melempar batu, bila terjadi silang pendapat, Sementara sang  ibupun  dengan lemah gemulai meninabobokan oroknya yang baru  berumur beberapa bulan. Mereka tidak mengenal membesarkan dan membelai anaknya di tempat sampah atau  sungai. Entah  abad yang bagaimana bila sang ibunya tega melakukan itu.

Namun apa yang banyak diungkapkan oleh syair dan fatwa para pujangga, telah mengering dan melekang disapu angin jaman, kala datanglah jaman yag dinahkodai oleh Gayus dan para pendukung,pembisik, pengusung kursi tahtanya serta para hulubalang yang buncit perutnya, berpesta pora 41 hari 41 malam, memakan daging dari bahu, lengan, paha masyarakat miskin penonton kereta revolusi. Sementara para oknum hulubalang raja lainnya berpengarai mirip hantu penghisap darah yang mampu mengeringkan sekujr tubuh korbanya, lantaran terhisap darahnya untuk peuas nafsu setan.

Nampaknya setan sudah menjadi kalah wibawa dengan penghisap darah ini. Sehingga setanpun sudah tidak mampu lagi merayu mereka. Sebab meskipun setan adalah mahluk hina, namun mereka masih memiliki perikemanusiaan, yang berbeda jauh dengan manusia yang berperikesetanan, dan oknum hulubalang raja seperti inilah yang berdiri dengan wajah garang di balik jubah hitam dan berdiri di tengah pintu kereta reformasi,seraya menyodorkan gelas gelas berisi air tuba bagi para penumpang kereta . Sehingga wajar saja bila negeri Archipelago menjadi negeri yang berkipas duri dalam debu, awan panas yang melelehkan kulit dan daging, wedus gembel dari perut neraka, lumpur  lumpur lulur bidadari yang menusuk hidung dan menyesakan dada.

Semua penonton kereta itupun menjadi kalang kabut, hingar bingar, berlarian mencari anak istri dan suaminya yang menyelinap entah kemana, kala mereka menyaksikan bumi yang naik pitam dengan ulah setan hitam pengisap darah ini.
Bumipun mengibaskan lenganya di Waisor, Mentawai, Aceh, Jogja, Pantai Pangandaran, Padang dan yang terakhir Merapi dan Bromo, yang meneteska air mata ilalang yang tak kokoh akarnya, tak tegar batangnya dan telah mengering daunya lantaran terhembus angin kereta reformasi yang tak kunjung berhenti.

Namun setan setan itu malah tertawa terkekeh, hingga keluarlah belatung dari dalam lidahnya yang terus membahanakan bau busuk menusuk hidung, menggeleparkan semua pesona negeri, lantaran sebagian ilalang lebih memilih berdiam di negeri seberang meski mereka mendapat cacian, hinaan dan aniaya dari sang empu negeri seberang tersebut.

Keretapun bertambah lambat jalanya dengan goncangan goncangan yang mulai terasa dan entah hingga kapan akan berhenti. Keretapun akan bersandar kelelahan bila sang hantu berniat mengasah hitam kukunya dan menajamkan taring penghisap apa saja yang ada di sekitarnya. Semen, aspal, baja, pupuk, mesin jahit apalagi sapi, adalah makanan sehari hari yang tanpa basa basi langsung menenggak semua oplosan tersebut, tanpa meninggalkan gejala penyakit apapun. Berlainan dengan anak anak kita yang  mati konyol kala menenggak oplosan demi menyematkan prestis meeka yang tak kunjung menggapainya.

Akankah lebih melegenda ke seluruh egara Negara sebrang, yang beristana di tengah lautan pasir, kutub utara dan selatan, ataukan puncak Mount Everest tentang Archipelago yang indah menawan yang berganti baju sematan Negara Nasi Aking, Negara TKW teraniaya, Negara Wedus Gembel atau bahkan Negara Oknum Petinggi Korup, denga menepiskan begitu saja sematan keagungan bangsa ketika Ramang dan Rudi Hartono atau juga Ir. Soekarno  dan lainnya yang menjadi buah bibir dunia.
Ilalang ilalang yang hidup di kampung berdinding korban jaman, kini hanya mendenguskan nafas panjang, bila mereka merasa telah hampa asa yang digenggam, lantaran separo nafas yang dititipkan pada istana loji penguasa,  akhirnya hanya terhempas oleh angin hedonisme mentalitas setan dan hantu berjubah hitam di Archipelago. Apalagi bagi ilalang  yang berbedak pupur debu Merapi hanya bersandar pada sorot mata yang kosong. Tembang si Piawai Lagu Sajak Ebiet G. Ade tentang Untuk Kita Renungkan, Perjalanan dan lain lain,  hanya untuk penghibur secangkir kopi manis di senja hari.  Bahkan mereka kini telah melebarkan jubah hitamnya guna menapatkan kursi kekuasaan yang lebih tinggi.

Ilalang yang bukan luusan kampus perlente saja telah tahu, bahwa kedamaian dan ketentraman negeri Archipelago hanya mampu diraih bila kita tidak saling mengukuhkan ego, tapi kita saling menjadi satu dalam cincin nasionalisme, apabila kita diusik oleh cincin api. Keterpurukan hanya mampu dientaskan bila antara daun ilalang saling bertaut antara satu dengan yang lain, bukan dengan jubah hitam sang hantu yang digunakan untuk menutupi aib nasionalisme, aib kemanusiaan dan aib moralitas lainnya. Hantu hantu enyahlah kau dari kereta reformasi


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar