Kamis, 15 November 2012

Penghujung Tahun



Mari kita benahi jalan desa,
meski masih beralas tanah liat
Agar tidak licin di tengah hujan setahun
Atau pula tidak melekang di…
tengah kemarau yang belum pernah…
kelihatan bayangnya.

Cukuplah jalan milik kita berpagar kembang sepatu
Bukan anggrek aneka warna, atau bunga jaman
Yang berkelopak hitam
Dan berputik “semu” sang penjaja “erotis”..
Tanpa bahasa hati tentang sawah lading

Mari kita usung pula...tanpa ragu
Segenggam angin sejuk dari buritan hidup
Agar kerah baju kita berornamen moralitas
Bukan lagi emas berlian yang menyelinap
Di perut kita yang berisi “jubah jubah setan”
Atau dandanan iblis penunggu “lembah nista”

Yang menjelma dalam raut wajah santun
Adil dan bijak dengan naungan ilalang
Berada di kedua sayap dan dasi yang necis.

Kita di ujung tahun, saudaraku…..
Jangan melangkah dengan kedua kaki
Yang saling mengutuk satu sama lain
Atau memincingkan mata dengan cibiran
Hingga terasa licin jalan tanah liat
Yang membentang dan menyeruakan hidup
Di tengah desa kita

Meski kita tak hirau dengan bilangan tahun
Karena dibisingkan dengan sapi yang melenguh
Dan kambing yang beranak di tengah hari bolong
Sedangkan padi kita telah tertunduk menguning,
Dengan daun sayur yang memantulkan cahaya mentari

Namun kita juga butuh terompet kertas
Untuk kita jadikan batu pijakan
Tentang anak kita yang tak kebagian
Kursi sekolah dan bangku akademi atau universitas
Ataukah memang….
Kaki kaki kita yang telah tersulam dari
Debu sawah atau Lumpur ladang

(Semarang, 22 Desember 2012, Pondok Sastra HASTI Semarang).






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar