Senin, 19 November 2012

Sebuah Persembahan untuk Guru



Aku beritakan kepada setiap puncak-puncak bukit yang menghimpitku,
Atau pada pucuk palma yang meneduh setiap nafas yang merontang
Tentang selembar kata hati, berbingkai sutra dan dari sudut jantung
Tentang aku sendiri……..kala berselingkuh dengan rumah bambu
Terselip di tengah padang kehidupan, melawan erotis jaman…..
Tak ubahnya sebuah daun kering yang terkapar di tepi lalu lalang
Lantas aku mengerling, kala terhempas ranum mawar kembara..
Merah jingga yang mengurai kemuskilan yang menyumbat tenggorokan

Sekarang bisa saja kita berteriak lantang merobohkan karang lautan
Tanpa kita arahkan wajah pada kaki timur langit lahirnya sang mentari
Kala kita menapak pada pematang kebun berias ilalang
Lantas kita selipkan mainan bunga pada peran pengantin……
Yang diolok sepanjang jalan dan sebentar Ibu memanggil
Untuk sejenak merebah di siang hari.

Kita kembangkan layar perahu di lautan lepas
Berlayar menyusuri  kain pengetahuan dan berkemudi Sang Guru
Sebentar kemudian kita mendapatkan tepi pantai
Berpelabuhan tarian santun dan elok hiasan nyiur melambai
Akan kami usung namamu…di pantai penuh damai
Sementara engkaupun hanya menggelengkan kepalamu
Sementara pula hanya kau sambut dengan senyum tipis,
Yang kau torehkan dari bibir keriputmu

Aku semaikan batang batang hidup, di tanah subur di lereng jaman
Itupun aku daki dengan peluh dan guratan wajah berlipat dari istriku
Dan anak anaku telah hapal betul dengan tanaman sayur di kebun
Namun aku hamparkan juga tanaman kembang warna warni
Di halaman depan rumah
Ini semua adalah kanvas yang kau sodorkan untuk sebuah lukisan
Dengan tata warna sahaja, tawakal dan hening Sang Penebar Angin
Bagaikan bulir padi di sore hari
Inilah yang kau ajarkan padaku GURUKU………….(Semarang, 14 Nopember 2010).

HANYA DO’AKU

Barangkali aku tak berpengetahuan
Barangkali aku tak bersikap santun
Barangkali masih jauh jalanku…
Barangkali saja telah menebal kulit kakiku
Untuk sebuah perjalanan menuju cakrawala

Namun untuk sebuah doa, “munjuk atur pada Hyang Widi”
Tetap merebak memenuhi dada
Kala pagi bermandi bunga hingga malam berpesta petir
Do’aku selalu untukmu GURUKU. ………….(Semarang, 14 Nopember 2010).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar