Senin, 19 November 2012

Puisi untuk Tahun Bencana



“SOLAR FLARE”
Sajian hidup di panggung Milenium
 yang semula berpagar  tirai dan kelambu para raja
beranyam kayu cendana dari Pasifik atau Antartika,
kini tersengal nafasnya,karena asap dan buih
kuning mentari yang berbinar,
melambung tinggi dari berandanya
kemudian tersenyum getir
di bilik bilik bumi, yang tergolek lesu
bergerigi,

Kita telah lupa menyemai Ozone
Kitapun lupa menyejukan hati bumi,
hingga kini memerah rona pipinya
mampukah mengelupaskan ego, tamak dan
nafsu serakah  kita.
                                         
Setelah satu dua langkah kaki bumi
Bersyahwat dengan pohon jati, sawit dan trembesi
lantas kita naungi dengan,
prahara angin kembara, meliukan gas buang
di bahu sang naga, yang rebah di atmosfer
Sang Mentaripun bertepuk dengan kedua tanganya
Dan berang, menahan senyum sahajanya
Sambil menjulurkan lidah api,

Kitapun bermata nanar
Kemana kita kan pergi ? (Semarang, 14 Nopember 2011).

Curah Hujan

Sudah berapa cemeti api
terusun di langit biru
untuk jembatan para dewa yang hendak
bermesraan dengan bumi.
                                                                 
Kita jangan berkalang dengan tebing,
Yang enggan menyisakan waktunya untuk
bersarapan pagi dengan kita, segelas teh hangat
sepotong ubi rebuspun kau tolak
hanya memburu kita yang tersudut
di bilik bambu kita masing-masing

Kitapun tak mau merebahkan badan
Pada,hempasan ombak bergulung
Menyisakan kepedihan, kala ikan tuna
Mengadu kesakitan di beranda rumah kita
Mari kita mengadu pada Yang di Atas sana. (Semarang, 14 Nopember 2011).

Tahun Kelinci

Kita jangan meratap pilu
bila Samudra Hindia telah menyambangi
guna menguntai salam perkenalan,
pada lengan lengan kecil yang menyambutnya
bagaikan kelinci di mulut buaya ganas,
sementara bulu bulunyapun tak mampu
menepis, mega mendung bergayut
di ufuk timur

Biarlah kelinci kita merebah di atas
jerami untuk membidik mimpi mimpinya,
kita ganti dengan degup semangat
agar kita lebih kentara lagi
mampu menawan hidup kita sendiri
di singasana ufuk timur
(Semarang, 14 Nopember 2011).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar