Sabtu, 17 November 2012

Rumah Bambu


Beberapa batang rokok telah habis dihisapnya, entah mengapa batang rokok yang dihisapnya sekarang  masih saja kuat melekat di jarinya. Tubuhnya masih saja rebah di kursi kayu jati yang renta membujur di ruang tamu  yang kumuh. Meski sinar mentari telah menghiasi wajah pagi yang kuning menyala, lantaran tersapu kemarau yang menerjang kotanya. Namun dia masih belum beranjak untuk memunguti kehidupanya yang tercecer di roda jaman. Padahal semburat sinar kuning mentari beberapa diantaranya telah menerobos celah dinding bambu yang berlubang, Sementara itu truk pengangkut pasir terus lalu lalang di depan rumahnya

Asap rokoknya masih saja mengepul menutupi wajahnya yang terlihat galau., segalau dunia yang masih saja liar menerima kehidupanya. Entah kehidupan macam apa yang pernah dia jalani, namun tetap saja hanya peluh dan debu yang menebari di sekujur tubuhnya. Gambaran hidup yang dia rengkuh, tak ubahnya seperti gambaran asap rokok, yang tidak pernah memilih gambaran yang pasti. Selalu saja berubah dihempas angin kemarau Gunung Merapi.

Sebentar sebentar terdengar lengkingan batuk panjang istrinya yang telah mongering tubuhnya, lantaran penyakit menahun yang  tak kunjung sembuh. Penghasilan dia yang pas-pasan hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah ke tiga anaknya. Sumitropun hanya mendenguskan nafas panjang, saat dia mengadukan kepada sanubarinya sendiri tentang kehidupannya. Cuaca yang terus menerus dibarengi hujan meski di tengah kemarau, membuatnya tidak berdaya untuk menambang pasir di Kali Krasak. Musim yang tiada menyodorkan kepastian, menyodorkan pula kehidupanya yang kian terhimpit.

“Tiada satupun manusia yang mampu mengatur cuaca, Mas !” nyaring suara  Hartini menyeruak memecahkan lamunan Sumitro yang masih menggantung tentang rencananya ke Malaysia menmgadu nasib.

“Makanya, Tin, aku sudah bosan menjadi penambang pasir yang tiada pernah memberi harapan. Aku tetap ingin kita mengambil resiko, daripada seumur hidup hanya merajut  hidup yang nestapa”.Sumitro kini menjadi lebih bergairah untuk mencoba menantang sebuah kehidupan yang menurut dia adalah suatu misteri yang tiada pernah mampu dipecahkan.

“Mas, kita mengarungi kehidupan ini hanya dengan keberanian, tanpa modal apapun, itu juga sudah penuh resiko. Lantas resiko apa lagi yang kamu inginkan”

“Mestinya kita harus lebih berani lagi mengambil resiko, sudah kepalang tanggung kita mengarungi hidup yang penuh gelombang besar. Sementara itu kitapun tidak pernah merasa aman untuk berlabuh di kehidupan yang penuh bahagia. Kamu tidak menginginkan itu ?”.

Hartini hanya menghiaskan wajahnya dengan senyuman tipisnya, sebuah senyuman yang menjadi awal sebuah hati  yang kekar milik Sumitro berhasil roboh dan mendekam dalam pelukan wanita yang santun ini. Hartini kini lebih mendekatkan duduknya di samping suamnya sambil mengaduksedikit gula dalam kopi pahit kesukaan suaminya.

“Wanita mana yang tidak ingin bahagia bersanding denga harta yang cukup, kehidupan yang tentram. Tapi coba Mas renungkan, kehidupan yang kita miliki sudah cukup bila kita tahu persis diri kita masing-masing, Kita sudah dikarunia tiga putra dan mereka sehat dan pandai. Kita sudah memiliki rumah meski hanya gubug beratap seng berdiding bambu .Mas, apa yang kurang dari kita ?”.

“Aku heran, Tin ?”
“Heran tentang, apa Mas ?”.
“Biasanya yang berkata seperti itu, adalah suami ketika istrinya  merajuk menuntut dunia untuk menghiasi hidupnya., Tapi malah kamu yang bertutur seperti itu. Bagi aku kehidupan seperti ini belum puas, aku ingin kelihatan kamu lebih cantik dengan dandanan yang lebih baik, lantas aku pengin juga menyekolahkan anaku ke kota, agar mereka mengenyam universitas, jangan seperti bapaknya yang hanya sampai kelas 2 SMP”
“Bukan hanya kamu, Mas !, akupun ingin seperti itu ?”
“Lantas mengapa kamu tidak setuju aku ke Malaysia ?”
“ Kalau itu membuat kita lebih bahagia, kenapa tidak Mas ?”
“ Kalau gitu, kamu setuju?”
“Ya, setuju, Mas ?”
“Terus akan kamu lepas kapan tanah itu, mumpung  Pak Ranto berani membelinya !”
“Itulah yang aku tidak setuju, Mas. Tanah itu satu satunya peninggalan orang tuaku. Lagian Mas Hartono juga masih punya hak , bukan aku saja”
“Ah..itu gampang, Tin. Kalau aku sudah di Malaysia, kan bisa aku ganti Mas Har dengan gajiku kerja di sana”
“Maaf, Mas, aku tidak setuju,memang Mas Hartono tidak pernah menuntut hak itu. Tapi dia tidak setuju kalau tanah itu dijual.
“Tertus apa artinya tanah itu untuk kehidupan kita, Tin ?”
“Mas Har minta supaya tanah itu dikelola untuk usaha atau untuk ditanami apa saja, dia tidak akan menuntut hak.Tapi dia tidak akan melepas tanah itu untuk dijual”
“Kamu memang istriku yang tidak mengerti cita-cita seorang suami.”
“Mas Sumitro,apa ke Malaysia menjanjikan segalanya ?. Tetap saja manusia tidak lepas dari KodratNYA. Aku takut Mas, keberangkatan Mas ke Malaysia justru nambah kesengsaraan kita, Apalagi dengan menjual tanah kita satu-satunya”
“Terus aku harus bagaimana, apa salah bila aku berhasil membahagiaan keluargaku, termasuk kamu, Hartini !. Aku berani bersumpah, aku tidak akan jatuh ke pelukan wanita lain, kamu sudah hapal, persis wataku..kan ?”
“Bukan masalah itu,..Mas ?”
“Masalah apalagi?”
“Kita manfaatkan saja tanah itu. Selama ini kita kan belum pernah bicara masalah ini”
“Aduuuuh, setengah mati kan Tin.Mau ditanami apa ?.Musim seperti ini tidak bakalan bisa diharapkan”
“Mas, aku diberitahu Mas Koco, temenmu di Kali Krasak”
“Ada apa ?
“Dia sanggup menyediakan bibit ikan lele, dia punya relasi di Magelang. Tentu kita bisa beli, orang harganya murah. Kebetulan tanah kita bisa diairi sepanjang tahun, cocok untuk beternak lele”
“Terus mau di juual kemana lele-lele itu”
“Hualah..Mas. Setiap rumah makan pasti menyediakan menu lele kan Mas ?”
“Ah, itu terlalu beresiko, aku nggak punya modal”
‘Kebetulan Mas, aku  bisa menyisihkan modal meski hanya sedikit. Tapi untuk menggali tanah itu,harus pakai tenagamu sendiri lhoMas,bisa kan Mas “

Belum sempat Sumitro memberi jawaban, sebuah pelukan kecil dan ciuman mesra telah disodorkan istri tercintanya. Dilekatkanya bibir istrinya dengan bibir pria yang sedang diliputi kegalauan. Kini pelukan itu telah direnggangkan oleh Hartini, diganti dengan bisikan penuh pesona
“Tolong ya Mas, kali ini aku dibantu, aku pengin lebih bahagia bersamamu”
Sumitropun tak mampu lagi memberi jawaban, yang ada hanya membalas dengan ciuman yang lebih hangat dan mesra, sambil membisikan di telinga istrinya “Kamulah rembulan di atap rumah bambu ini. Aku berjanji tidak akan ke Malaysia demi kamu “.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar