Senin, 19 November 2012

Mozaik Negeriku



dalam keranda

dalam keranda kita menyimpan sepi
hari menepi, mentari tak bertumpu langit
kita kehilangan arti
peluh tetap mengeluh, teriakan kita
tak sempat dilentingkan tebing
berpagar beluntas dan sedap malam

kita dalam pengap
dalam adonan kemanusiaan
kita terhisap “Bhatara Kala”
tak satupun perguliran musim
melorohkan suka cita
kita dalam gurat kebencian

dalam keranda…..
satu dua episode ditikam belati
milik durjana berkain hedonisme
kita hanya memiliki usungan
untuk esok pagi~tiada semerbak
angin segar desa dan negeri
pada langit kita sodorkan kanvas
putih bersih

(Semarang, 10 Maret 2012)

kucirca

tak  pernah kau jera dengan ocehan
kucirca busuk, bersandar di tiap pagi
sepotong bait, tak mengenyangkan perut belalang
kupu-kupu terus saja mengepak sayap
enggan mengatur nafas
kucirca  menebar duri
dari dalam paruhnya

hidangan pelepas lelah
terlelap dalam kabut penuh pekat hitam
kucirca menari dan melontarkan sihir
sementara daun daun bersorot mata nanar
tiada pernah berhenti bergumul
dalam segala yang menyelinap
di hari, belum sempat berbenah.

(Semarang, 10 Maret 2012)

si dungu penunggu makam sepi

manusia  juling dan bertaring
di tengah bilik hitam
empat tirai kain bisu dan tuli
menyelingkungi, padang sunyi
dihempas angin kebohongan
wajah sembab dan dungu
menanti jarum jam
kubur-kubur apa saja siap menelan
tubuh santun dan keadilan
telah bugil dan dalam tertikam
tanah merah kuburan jaman
tanah itupun berasa anyir
dan sunyi……

(Semarang, 10 Maret 2012)

kereta senja

jangan kau keburu memburu usai
nyanyian senja hanya fatamorgana
kereta senja biarlah melindas relmu sendiri
manusia berkain ilalang, masih berlabuh
pada episode hidup di tanah merdeka

kita masih menyambung tangan dalam jabat erat
menyemai pagi indah, beralas padi menguning
berselimut hijau sayur, bereksotis
dengan angin gunung

kereta senja tak akan lewat
enyahlah kau dari Negeri Bidadari
lengan lengan kecil bergurat moralitas
masih bercumbu dalam selingkuh Negeri Katulistiwa
meski duka nestapa dalam opera gubug bambu
dengan sepotong kue desa, dan kopi pahit

esok pagi masih ada
setangkai mawar bunga
dari sawah ladang,  masih dalam
alunan kembang cinta
selamat pagi negeriku

(Semarang, 10 Maret 2012)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar