Senin, 19 November 2012

Negeriku PAPA



GERIMIS DI TENGAH KEMARAU

Aku mengusung singkong, ubi jalar dan tanaman sayur,
Yang tumbuh di halaman rumah
Ke dalam bilik kamarku,
Agar terasa hangat hatiku, jantungku
Darahku, yang terbujur kaku,
Meski ini bukan gerimis terakhir
Yang mengguyur dinding bilik
Terbuat dari anyaman bambu
Membasahi ilalang di atap rumahku,

Namun sepiring nasi lusuh
Dengan sekerat tempe
Dan dibasahi sayur asem
Mampu mengganjal laparku,
Dengan senyum beribu warna
Istrikupun menghangatkan tubuhnya
Dengan sayur dan kue-kue pasar
Agar di tengah malam tak terjaga
dari teriakan  dinding perutnya

Di meja yang tiada seberapa kokohnya
Berkaki bambu sebesar lenganku
Tertata makanan hangat
Agar anak-anaku tiada menghujamkan
Tangis bernada sinis
Karena kosong isi perutnya,
Meski perut yang mungil itu
Telah akrab dengan jaman

Aku menari nari di atas lantai tanah
Dengan radio butut yang berwarna kusam
Sekusam warna pagar rumahku
Yang mengumandangkan tembang jawa
Anaku sontak memburuku
Bagaikan kupu kupu di kebon belakang
Berhamburan memesariku
Istriku hanya tertawa hingga jelas
Lesung pipinya

Inilah sejuk…….
Bukan lantaran rumah berdinding semen
yang halus mengkilap
Putih cemerlang, bergurat jeruji penjara
Seperti pada loji para petinggi
Berdinding marmer nan licin
Sehingga berulang menjatuhkan musuhnya

Gerimis tak berniat surut
Aroma tanah yang dilekang kemarau
Masih saja memenuhi dinding bambu
Bayang hitam merengkuh bilik bambuku
Seloroh kini telah berada di atas bantal
Dengan dengkuran yang menepiskan
Getir yang mengitari pembuluh nadi

(Semarang, 26 September 2010).


ANAK “SINGKONG REBUS”

Jangan kau malu anaku,
Kala sepeda ini dikayuh, melewati jalan
yang kering dengan batu batu terjal
mencibirkan…makna
Jangan kau berangan “duduk” di kursi
Hulubalang raja
Yang berenda kertas berhias sutra
Lantaran kau adalah anak “singkong rebus”
Yang selalu bisa mengganjal perut
Bila matamu nanar
Merangkul kegetiran……

Anaku….
Kau bukan anak menteri di atas sana
Tapi tak  harus kau melangkah surut
Kejarlah kedamaian
Dengan kedua tanganmu yang teduh
Meski sorot matamu redup
Tak mampu menerangi sudut langit

Jangan kau kejar rembulan…anaku….
Bila separonya telah dihimpit awan gelap
Kejarlah bintang di langit
Bila awan telah menyodorimu
Senyum indah
Berdoalah bila benakmu telah
Menyimpan apa yang ada di kepalamu…..

(Semarang, 26 September 2010).

BINTANG KEJORA

Apa telah kau besihkan beranda rumah
Meski hanya berlantai tanah liat
Agar tegar langkahmu, membidik bintang kejora
Warna warni,
Di bibir langit,
Apakah benar kau mampu menyuntingnya,
Bila melewati remang malam
Beterbangan kelelawar penghisap darah
Dari urat nadimu yang kecil….tak berdaya

Namun tiada juga kau bersalah…..
Bila kau memungutnya dan kau simpan
Dalam cucuran peluhmu..
Karena kau masih tegar
Melangkah pada kedua kakimu
Dan legam bahumu telah cukup kokoh

Biarlah emak dan bapakmu
Melepasmu di pagar luar rumah
Janganlah kau hirau, pada guratan wajah
Yang kami sisakan untukmu…..
Tengoklah kebon sayur bila
Telah gontai langkahmu

Semarang, 26 September 2010).


ABANG BECAK
Pada langit, bumi, lembah dan ngarai
Aku pekikan…..
Aku tiada pernah merasa lelah
Mengusung kehidupan
Di hari yang mengigit dan
Dan nafas yang menerkam

Jalan ini adalah miliku
Meski dipusari gedung bertingkat
Beratap jalan laying, berwajah gincu tebal
Aku akan terus menerjang
Meski debu jalan menghardiku
Demi manja istriku dan anaku
Semarang, 26 September 2010).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar